Tampilkan postingan dengan label Artikel RenuGan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel RenuGan. Tampilkan semua postingan

01 Januari 2013

Hello More Precious 2013

Selamat tinggal tahun 2012 yang berharga dan selamat datang tahun 2013 yang lebih berharga. Terima kasih Allah, karena masih memberikan saya kesempatan hidup di tahun 2013 ini bersama orang-orang yang sangat saya sayangi. Tahun 2012 adalah tahun yang memberikan saya banyak kenangan, pengalaman, dan hadiah yang sangat berharga bagi saya.

Di tahun 2012, memang diakui merupakan tahun terberat selama saya kuliah di Politeknik Caltex Riau, karena di tahun inilah saya harus menyelesaikan Tugas Akhir saya.  Oya judul yang saya ambil adalah Desain dan Implementasi Sistem Informasi Kepegawaian Politeknik Caltex Riau. 

Banyak suka dan duka yang saya alami dalam menyusun TA ini. Perasaan senang ketika diperbolehkan seminar dan maju sidang, sedih ketika harus revisi lagi dan lagi dan sistem diubah atau ditambah, takut jika tidak lulus karena web service yang gak jalan, dan banyak lagi. Sampai saya memutuskan untuk menginap di lab kampus dengan teman-teman satu kelas. Hahaha lucu sekali kalo diingat-ingat. 

Namun, apa yang telah saya alami dan pelajari ketika menyusun TA ini telah memberikan saya banyak pelajaran yang berharga. TA ini menuntut manajemen waktu yang baik , sabar, dan semangat ketika error bermunculan dimana-mana, untuk bisa bertahan dan gak sakit. Meskipun saya pernah sakit di saat menginap di kampus. Wajarlaaah... dingin kali sob AC nya hehe.

Teman-teman ingat pepatah "bersakit-sakit dahulu berenang-renang ketepian" kan?. Pepatah itu benar-benar saya rasa. Alhamdulillah hasil yang saya peroleh sangat memuaskan. Saya mendapatkan nilai A di proposal dan TA saya. 

Terima kasih terutama kepada Allah SWT, kepada dosen pembimbing saya (Bapak Erwin Setyo Nugroho, S.T., M. Eng dan Bapak Agus Urip Ari W., S.T., M.T) yang telah membimbing dan memotivasi saya. Keluarga (Ayah, Mama, Abang, dan 2 Adik ku) yang menjadi motivasi saya untuk gak menyerah dan yang selalu mendukung dan mendoakan saya. Teman-teman G9 Teknik Komputer dan satu kos yang sudah banyak membantu. Seseorang special yang sabar menunggu, sangat baik, banyak menolong, meng-support, dan mendoakan saya. Thanks for everything  :)

Pada 8 Agustus 2012, tepat saat saya sidang akhir, saya juga mengikuti tes wawancara untuk masuk program COOP Chevron. Jadi ingat teman kos saya Selfi yang dengan baik hati mau mengantarkan saya tes wawancara dan menunggu dan menemani saya untuk membeli buah. Padahal ketika itu dia sedang banyak project kuliah, terima kasih Selfi. 

Seminggu setelah itu, saya dinyatakan lulus program COOP tersebut. Ini bukan untuk sombong ya, tapi saya ingin memiliki sebuah catatan tertulis tentang saya sehingga nantinya bisa memberikan contoh yang baik buat anak saya kelak hehehe :D.

Di program COOP ini, banyak ilmu dan pengalaman yang sangat bermanfaat yang saya peroleh dan tentunya mendapatkan uang dari hasil kerja sendiri. Disini, saya mengerti tentang procurement process, management Chevron yang mendunia, pentingnya safety, disiplin yang tinggi, hidup ramah tamah, bekerja cepat dan tepat, mengenali karakter berbagai macam orang, dan harus semangat. Tetap semangat Pagi meskipun hari sudah siang!

Di penghujung tahun, saya pun mendapatkan hadiah yang sangat berharga bagi saya dan keluarga saya. Saya diwisuda dan orang tua saya beserta satu keluarga datang ke PCR melihat wisuda saya. Alhamdulillah saya mendapatkan predikat Cum Laude. Thank you Allah for all that you gave to me. Aku melihat senyum kebahagiaan itu dari kedua orang tua ku.

I wanna thanks to Allah for This Wonderful Year 2012. For all that you've given to me.

Demikianlah cerita singkat di tahun 2012 dari seorang Nova. Sekali lagi ini bukan ajang pamer, namun sebagai dokumentasi saya untuk anak saya nantinya hehehe. 

Nah, untuk 2013 apakah saya mempunyai harapan yang ingin dicapai? tentunya ada dong. 
  1. Bekerja di perusahaan ternama dengan posisi yang sesuai dengan keahlian saya.
  2. Bisa memberikan uang kepada orang tua dan saudara-saudara.
  3. Puasa Senin Kamis
  4. Sholat tepat waktu
  5. Meditasi 5 menit tiap hari
  6. Lebih sabar dalam segala hal
  7. Lebih pintar memasak
  8. Dan lain-lain yang belum terpikirkan.
Ayo semangat dalam menjalani tahun 2013 ini. Dan yakinlah kalau kita memiliki keinginan, pasti keinginan itu bisa terwujud jika ada usaha dan selalu berdoa. Semangat!

02 Juli 2011

A Little Thing Called Love / First Love PART 1

Nah kalau biasanya kita nonton drama atau film Korea, Jepang, Taiwan atau Mandarin, ini ada satu film yang recomended, bagus juga ditonton, nggak kalah dengan film atau drama dari negara-negara tadi.

Langsung aja ya sinopsisnya :D

Adegan di mulai di sebuah pameran fotografi profesional. Sang fotografer sedang diwawancarai mengenai sebagian besar foto-fotonya. Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi. Fotografer itu mohon izin pada wanita-wanita yang mewawancarainya, “Maaf, itu anakku.”

Saat fotografer menghampiri bayi itu dan menghiburnya agar tak menangis lagi. Sementara wanita-wanita yang mewawancarainya berbisik-bisik, “Tampan sekali, sayang sudah punya anak.”


Kemudian adegan berpindah ke 9 tahun sebelumnya. Nam, seorang gadis berkulit gelap, berkacamata, baru pulang sekolah bersama ketiga teman-temannya, Cheer, Nim dan Gie.

Saat perjalanan, sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh seorang cowok tampan melintas. Nam memperhatikannya dengan terpesona, apalagi saat cowok itu dengan baik hati memberikan jalan pada orang buta. Teman-temannya yang menyadari arah pandangan Nam menggodanya, meski Nam mengelak tapi ia tak luput dari sasaran kejahilan teman-temannya.

Sepeninggal teman-temannya Nam tak langsung ke rumah. Ia menjemput seorang bule bernama James Bean. Rupanya Ibu Nam memiliki penginapan dan restoran murah untuk para turis backpacker yang ke Thailand.

Ibu Nam: “Bagaimana sekolahmu hari ini?”
Nam: “Baik, aku masih dengan Cheer, Nim dan Gie.”
Ibu Nam: “Apa kalian tak bosan satu sama lain? Kalian sudah bersama sejak kelas 1.”
Pang (adik Nam) menimpali: “Dia tak punya pilihan bu. Tak ada lagi yang mau berteman dengannya karena begitu melihat Nam.”
Nam yang kesal menarik kepangan rambut Pang, ibunya melerai dan menasihati, “Teman adalah teman, bukan masalah penampilan”
Pang,:“Tapi tetap harus jadi pertimbangan pertama. Untung aku terlahir mirip dengan Ibu, jika aku mirip dengan Ayah atau Nam aku pasti takkan punya pacar saat aku besar”.

Dan lagi-lagi kakak adik itu bertengkar. Ibunya memisahkan mereka, “Pang ini, ayahmu pasti sedih kalau mendengarnya. Nam, pergi ke tempat yang kau inginkan sana !”
Setelah Nam pergi, Pang berbicara, “Ayah di Amerika. Ia takkan bisa mendengar kita.”

Saat Nam pulang dari pasar dan menikmati eskrim yang dibelinya, seorang cowok jatuh dari pohon di dekatnya. Cowok yang sama yang dilihat Nam mengendarai motor vespa sepulang sekolah.
“Mangga?”tawar cowok itu pada Nam. Ternyata kaki cowok itu terpincang-pincang.
Nam terkejut dan menerima Mangga itu dengan hati berbunga-bunga. Namun kesenangan hatinya tak berlangsung lama ketika ia melihat cowok itu juga menawarkan Mangga yang dipetiknya pada cewek lain di jalan.

Keesokan harinya di sekolah, Nam, Cheer, Nim dan Gie menghabiskan waktu istirahat mereka dengan mengisi quiz di majalah.
Gie, “Nim dapat 28. Cowok yang pas untukmu adalah seseorang dengan jiwa pemimpin...”
Mereka lalu melirik Tom, pemimpin klub agama Buddha yang suka meditasi.
Gie, “Cheer 15-25, cowok yang cocok untukmu adalah cowok yang ahli dibidang olahraga.”
Cheer melihat Kai, cowok anggota sepak bola, dengan terpesona.
“Nam, kau cocok dengan pria yang berjiwa seni... Kira-kira siapa ya?”
Nam tak mempedulikan teman-temannya. Dari tadi matanya hanya memandang seorang cowok yang lucu dengan menempelkan stiker hitam di alisnya. Rupanya cowok tampan itu satu sekolah dengannya.

Di kelas Bahasa Inggris Bu Guru Inn, Nam dan teman-temannya terlihat sibuk mengobrol lewat kertas. Mereka membicarakan cowok tampan yang sedari tadi dilirik Nam.
Cheer menulis, Namanya Chon. Dia senior satu tingkat di atas kita. Masa lalunya sangat mengerikan. Jangan dekat-dekat dengannya.
Nam membalas, Itu tidak benar.
Cheer, Itu benar! Dua orang gadis pernah mengundurkan diri dari sekolah karenanya. Dia itu berbahaya.
Dan saat Cheer dan Nim mengobrol mengenai Chon, Guru Inn mengetahuinya dan menghukum Cheer untuk berdiri. Ia ditanyai arti dari “You’re my inspiration”. Cheer yang tak tahu gelagapan, hingga akhirnya Nam memberi tahunya diam-diam dan Cheer bisa melalui hukumannya dengan mulus.


Di tengah pelajaran Nam meminta izin pada Guru Inn untuk pergi ke toilet. Meski ia akhirnya berbelok untuk mengintip Chon di kelasnya. Terlihat Chon sedang menjahili bangku temannya, Nam tersenyum geli dan puas.

Saat berbalik hendak ke kelas, ia berpapasan dengan Chon yang rupanya mendapatkan getah dari perbuatan jahilnya. Chon dihukum berdiri di luar kelas sambil mengangkat satu kaki dan merentangkan tangannya. Tanpa sepengetahuan guru, Chon memasang headset di telinganya. Begitu Nam lewat, Chon memberi isyarat dengan telunjuk jari agar Nam tak berisik. Nam tersenyum geli melihat Chon yang joget-joget diiringi musik di headsetnya.

Sejak saat itu, Nam yang sedang kasmaran mengikuti kemana Chon pergi. Ke tangga, ia pura-pura ada disitu sejak tadi. Ia juga menelusuri lorong-lorong sekolah hingga tak sengaja hampir bertabrakan dengan Kepala Sekolah.


Begitu pun saat olahraga. Chon yang suka ikut-ikutan bermain bersama klub sepak bola memancing histeria para gadis yang tergila-gila padanya. Termasuk Nam yang pura-pura membagikan minuman gratis.
Saat sedang bermain sepak bola, tiba-tiba seorang murid cewek memanggil Chon. Chon menghampirinya dan mereka terlihat akrab. Seluruh murid kelihatan jealous dan penasaran tentang hubungan keduanya.


Di rumah, Nam mematut di depan kaca. Ia menyadari tak ada kemungkinan untuk Chon melirik padanya karena kulitnya yang dekil dan gelap.
Kemudian ia dikejutkan oleh kedatangan pamannya yang bekerja di Amerika bersama ayahnya. Pamannya masih terkena jetlag karena penerbangan yang jauh.
Pamannya memberitahu Nam, Pang dan Pim, ibu Nam kalau ayahnya bekerja menjadi asisten koki. Ia juga mengirimkan foto serta mengatakan kalau Ibu Nam dan anak-anak harus bersabar.


Paman Cheng, “Ayahmu juga mengatakan, kalau di antara kalian ada yang mendapatkan ranking 1 maka ia akan mengirimkan tiket ke amerika.”
Nam dan Pang bersorak gembira.
“Tapi tiket kan mahal” ujar Pang menghilangkan kegembiraan Nam.
Pim, “Karena ayahmu tahu, mendapatkan ranking 1 itu sangat sulit buat kalian makanya ia janji seperti itu.”
Nam memandangi foto ayahnya penuh tekad, “Lihat saja ayah, aku akan mendapatkan ranking 1!”
“Dari ranking 30?”sela Pang. Gubrak!


Istirahat sekolah, Nam yang hendak membeli minuman untuk teman-temannya mendapat gangguan dari anak-anak basket, Maew dan Ding. Mereka bertengkar dan keributan itu disadari oleh Chon. Chon membelikan Nam 4 gelas pepsi untuk Nam dan kawan-kawannya. Nam semakin terpesona oleh Chon.

Rupanya Maew dan Ding tak terima oleh perbuatan Chon yang dinilai mereka sok pahlawan. Mereka mengajak Chon bertarung di belakang sekolah. Tadinya Chon tak berniat meladeni mereka sampai Ding menghina-hina ayahnya, “Kenapa? Kau berniat menjadi sok pahlawan seperti ayahmu? Gara-gara ayahmu tak bisa tendangan pinalti provinsi kita tak jadi mendapatkan piala nasional! Dasar sial ayahmu!”
BUG! Chon yang habis kesabaran menghajar Ding.



Nam yang mendengar tentang perkelahian Chon, segera kembali ke sekolah. Namun saat kembali Chon dan yang lainnya sudah tak ada. Hanya ada sebuah kancing berlumuran darah yang terjatuh di lantai. Nam memungutnya.

Sesampainya di rumah, Nam menyimpan Pepsi yang dibelikan Chon untuknya di kulkas. Di tempelkan kertas bertuliskan “Jangan Diminum” di gelas Pepsi tersebut. Saat di kamar, ia membersihkan kancing yang ia pungut dan menggambar sebuah senyum di atas kancing tersebut. Ia memanggil benda yang diyakininya milik Chon itu Tuan Kancing. Setelahnya ia tertidur sambil membayangkan memeluk Chon.

Saat upacara sekolah keesokan harinya, Bu Guru Inn memanggil nama-nama yang disuruh ke ruang disiplin untuk diberi hukuman. Rupanya Chon, temannya, Maew dan Ding juga dipanggil karena bertengkar kemarin.

Saat di ruang Guru Kedisiplinan, Chon dan yang lain diberi hukuman sabet rotan di pantat. Nam yang merasa menyesal menunggui Chon selesai menerima hukumannya. Chon diberi keringanan oleh gurunya karena berprestasi dibidang fotografi. Di luar, Chon bertemu dengan Nam dan mengatakan kalau hukuman yang diterimanya bukan karena Nam. Nam memberi plester untuk luka Chon. Setelah berbalik, Chon memanggil nama Nam untuk mengucapkan terima kasih.

Sepulang sekolah Nam segera pergi ke danau dan berteriak heboh karena Chon tahu namanya.

Di Kafe tempat Nam dan kawan-kawannya biasa nongkrong sepulang sekolah, Cheer menemukan buku 20 Trik Menggaet Senior untuk menjadi pacar. Nam pura-pura tak tertarik dan memilih membaca buku, Rahasia Menjadi Ranking 1. Cheer menggodanya, “Apakah kau benar-benar Nam?”
Nam merengut, “Aku serius. Sudah 5 tahun aku tak bertemu ayahku, aku ingin segera bertemu dengannya.”
Beberapa saat kemudian masuk beberapa kakak kelas mereka sambil membawa sebuah buku berjudul 9 Metode Cinta. Kakak kelas itu membicarakan bahwa buku itu ampuh sekali dan membuatnya bisa pacaran dengan orang yang ia sukai. Temannya juga membeli buku yang sama, dan ia juga berhasil.
Cheer dan yang lain tertarik membeli buku itu dan membacanya di rumah Nam.

Metode pertama (dari Yunani):
“Pergilah ke tempat dimana banyak bintang seorang diri, lalu tariklah garis dari bintang satu ke bintang yang lainnya sampai membentuk nama pria yang kau sukai.”

Cheer dan teman-temannya langsung ke jendela dan menarik nama masing-masing pujaan hati mereka, sementara Nam diam saja di kursi baca.
Nim, “Nam kau tak ikutan?”
Nam, “Aku tak percaya hal semacam itu. Buku itu tak masuk akal.”
Akhirnya setelah teman-temannya pulang, Nam segera berlari ke jendela dan menarik nama Chon di antara bintang-bintang dengan sepenuh hati. (OSTnya enak dan pas)

Chon sedang bermain bola bersama teman-temannya hingga pelatih fotografi nya datang. Ia membawa poster tentang lomba fotografi yang akan diikuti oleh Chon. Ayahnya yang sedang beres-beres toko memandang Chon dari jauh.
Ayah Chon, “Dia selalu bermain sepak bola bersama teman-temannya tapi tak pernah mau ikut klub sepak bola sekolah”
Ibu Chon yang ternyata bule, “Biarkan saja. Dia bermain sepak bola untuk bersenang-senang, bukan untuk bertanding.”
Ayah Chon mengusap wajahnya, “Andai saja saat itu aku berhasil melakukan penalti...”
Ibu Chon menghela nafas, “Nah, lagi-lagi kau bicara seperti itu. Chon tak bermain serius bukan karenamu. Kalaupun ia trauma, suatu saat ia akan melewatinya. Lihat, orang yang nyata berdiri di depanku, sudah melewati hari yang buruk itu hingga bertahan sampai sekarang bukan?”
Ayah Chon tersenyum.

Pagi harinya di sekolah, Nam datang dengan penampilan baru. Ia memasang kawat gigi. Sementara Gie bilang ia aneh dengan kawat gigi tersebut, Nam bersikeras kalau kawat gigi itu kelihatan indah.
Cheer tak memperdulikan Nam, ia menatap Kai yang duduk jauh di depannya. Kemudian bergumam, “Makan... makan nasinya... yes! Dia makan nasinya!”
Nim meledek Cheer, “Tentu saja, karena dia memang sedang makan.”
“Apa yang sedang kalian lakukan?”tanya Gie heran.
Nim menunjukkan lagi buku 9 Metode Cinta...

Metode kedua (dari Maya):
“Pusatkan pikiranmu dan tataplah orang yang kau suka. Usahakan kau menguasai pikirannya, kemudian suruh ia melakukan sesuatu. Jika berhasil, maka ia pasangan jiwamu...”
Sebelum Nim selesai bicara, Nam sudah memandangi Chon. Sambil memusatkan pikirannya ia bergumam, “Menolehlah padaku... menolehlah padaku...”

Usaha Nam dilihat oleh teman Chon yang kemudian memanfaatkan keadaan itu untuk menyuruh Chon menoleh hingga bisa mencuri bakso milik Chon. Chon menoleh. Nam menjerit kecil, “Chon menoleh padaku!”
“Siapa yang menoleh, Nam?”tanya Cheer yang duduk disamping Nam.
Nam membetulkan kacamatanya gugup, “Tidak. Bukan siapa-siapa.”
“Kau mencoba menghipnotis Chon ya?”tanya Cheer curiga.
“Apa, kau gila?! Tentu saja tidak!”elak Nam. Meskipun akhirnya ia ketahuan juga berbohong.
“Lalu kenapa kau bilang buku ini tak masuk akal?”sindir Nim.
Nam tersipu, “Aku takut kalian akan meledekku...”
Cheer menepuk bahu Nam, “Tenang saja Nam...”
“...kami pasti akan meledekmu!” lanjut teman-temannya sambil tertawa.

Di tempat lain, Guru Inn sedang bahagia karena diberi sekotak telur asin oleh Guru Phol.
“Sepanjang perjalananmu kau pasti memikirkan aku karena membeli telur ini” ucap Guru Inn tersipu malu. Guru Phol hanya tersenyum.
Sepanjang jalan Guru Inn bernyanyi gembira dan memamerkan telur asin yang diberi Guru Phol, namun nyanyiannya terhenti ketika di kantor guru, masing-masing meja juga penuh dengan kotak telur asin dengan merek yang sama. Bahkan banyak yang lebih dari satu kotak.

Metode ke tiga (dari Skotlandia):
“Berikan sesuatu yang berlambang hati kepada pujaanmu”

Kali ini Nam dibantu teman-temannya hendak memberi Chon hadiah coklat berbentuk hati. Mereka menyingkirkan hadiah-hadiah lain yang ada di atas sepeda motor Chon dan menaruh kotak coklat Nam di atas sepeda motor.
Saat Chon mengambil hadiahnya, Nam dan kawan-kawan mengintip dari balik tembok. Dan, ups, rupanya karena kelamaan di atas sepeda motor Chon, coklat itu mencair dan mengotori sepeda motor Chon.
“Kita lupa satu hal,” ujar Cheer, “Negara kita negara Tropis.”
“Mangga?”tanya Gie heran pada Nam ketika Nam memutuskan untuk memberi Chon Mangga, “Orang lain memberi sapu tangan, bunga, dan yang lain sementara kau Mangga? Bagaimana bisa romantis.”

Saat mereka masih berdebat, rupanya sudah ada yang mendahului mereka. Faye, cewek tercantik satu sekolah menghampiri Chon dan memberinya kue mangga buatannya. Chon terlihat sangat senang dan berterima kasih.
“Dia manis, dan ibu rumah tangga yang baik di masa depan, bagaimana kita bisa bersaing dengannya?”ujar Gie lesu.
Nam mulai putus asa.

Saat ujian Bahasa Inggris berlangsung, rupanya Bu Guru Inn diundang oleh Guru Phol untuk makan malam di rumahnya. Guru Inn pura-pura sibuk dan berusaha menyempatkan diri untuk datang. Namun Guru Orn lewat dan mengkonfirmasi janji makan malamnya juga bersama Guru Phol di waktu yang sama. Guru Inn bertanya pada Guru Phol, “Malam ini bukan hanya kencan di antara kita saja?”
Guru Phol tertawa, “Tolong jangan sebut sebagai kencan. Malam ini aku sengaja mengundang guru-guru untuk makan malam bersama.”
Guru Inn cemberut. Ketika Nam menghampiri dan menyerahkan kertas ujiannya, Guru Inn yang masih terbawa emosi meremas kertas ujian Nam dan membuangnya. Saat tersadar, ia minta Nam menolongnya memungut kertas itu lagi.

“Aku punya ide” kata Cheer, “Chon harus mengantar Nam pulang. Ini akan jadi terlihat romantis.” Nam dan yang lainnya setuju. Mereka mencari cara supaya Nam kelihatan butuh tumpangan. Cheer sampai membuang kunci motor milik Nim. Sayangnya mereka lagi-lagi kedahuluan Faye. Faye berjalan mendekati Chon dan pura-pura terkilir kakinya.
“Kue Mangga” Chon memanggil Faye, “Kenapa? Apa kau tak bisa berjalan?”
“Tak apa...” ucap Faye pura-pura, namun lagi-lagi ia memperlihatkan seolah-olah ia terkilir. Chon yang gentle menawarkan tumpangan pada Faye yang disambut senang hati. Faye tersenyum menang ke arah Nam.
“Ah, Dramatis sekali” sinis Gie.
“Apa ia lulusan sekolah akting?”sahut Cheer. Sementara Nam melongo tak percaya.

Tahun berikutnya....

Pang menemukan kertas yang isinya gambar Nam dan Chon kemudian mengadukannya pada Pim. Pim marah karena Nam sudah memikirkan pacaran, “Nam, bagaimana kamu mau bertemu ayahmu? Untuk hal ini, kamu harus lebih dewasa dulu. Sekarang kamu hanya harus fokus belajar!”

Pang meledek Nam. Dengan marah, Nam pergi ke atas atap.
Di atas atap Nam hanya melamun sambil mendengarkan musik sedih. Rupanya Pang yang merasa bersalah menelpon Cheer dan yang lain agar menghibur Nam. Mereka datang dan hendak mempraktekan buku 9 Metode Cinta.

Metode ketujuh *tahu-tahu sudah tujuh* (dari Gypsy):

“Cinta, berarti harus membangun diri sendiri. Gunakanlah kekuatan cinta agar kita bisa menjadi lebih pintar, lebih cantik dan lebih baik dari sebelumnya. Maka akhirnya si dia akan melihat ke kita.”

Sambil diiringi OST yang enak (?) Cheer dan yang lainnya melakukan segala macam perawatan pada tubuh Nam. Dari masker, lulur, sampai melumuri kulit Nam dengan kunyit.

Nam yang sudah selesai perawatan, bersama teman-temannya datang ke toko olahraga milik ayah Chon. Mereka ingin bertemu Chon dan memperlihatkan Nam. Tapi rupanya Chon sedang pergi. Nam sempat melihat artikel yang memberitakan kegagalan eksekusi pinalti ayah Chon. Saat hendak pulang, rupanya Chon datang. Ia menyapa Nam kemudian heran dengan perubahan kulit Nam. Rupanya ‘treatment’ khusus yang dilakukan Cheer dan yang lain justru membuat Nam terlihat kuning.
“Apa kau menderita sakit kuning?”tanya Chon sambil memeriksa suhu tubuh Nam.
Nam yang gugup menggeleng sambil berusaha tersenyum.
Saat itu lagi-lagi Faye datang, dan berpura-pura hendak membeli sekotak bola pingpong. Nam yang kesal menjatuhkan bola pingpong yang dipegangnya sehingga Faye terpeleset dan jatuh.

Di sekolah akan diadakan klub pentas seni. Klub drama guru Inn terlihat kosong dan tak ada yang mendaftar, sementara klub penari klasik milik Guru Orn penuh dengan peminat. Di antara peminat-peminatnya juga ada Nam cs.
“Nam, kau harus melepas kaca matamu” saran Cheer.
Nam melepas kacamatanya sambil cemberut, “Kurasa kita tak cocok sama sekali dengan konsep klub ini. Kulit putih, cantik, mirip china... semua yang dibutuhkan untuk kualitas penari klasik.”
“Nam benar,” Nim menimpali, “Setiap tahun Guru Orn hanya memilih yang cantik. Dan seluruh sekolah akan datang melihat mereka menari.”
“Tidak seperti klub drama, mereka semua jelek. Tak ada yang ingin melihat mereka perform” tambah Gie.
“Tapi kita harus mencobanya” sela Cheer, “Kita mungkin tak cantik, kulit putih dan mirip China, tapi kita indah dan berkulit gelap. Kita bakal jadi trend baru.”
Yang lain tertawa.

Chon lewat di dekat mereka dan menimbulkan kehebohan. Faye memanggil Chon dan bertanya klub mana Chon akan bergabung.
“Aku akan ikut klub fotografi” jawab Chon.
Faye tersenyum genit, “Kalau kau butuh model untuk fotomu, kau bisa memanggilku kapan saja...”
Cheer cs menatap Faye jijik.
Chon tersenyum, “Aku berminat memotret pemandangan bukan orang.”
Cheer cs menertawakan Faye. Tapi Faye tak menyerah, “Ah, Kak Chon bercanda.”
“Aku memang bercanda” jawab Chon menghilangkan tawa Cheer dan yang lain, “Sini biar kufoto.”
Faye memasang pose manisnya. Di foto kedua, Nam ikut-ikutan di belakang Faye.
“Jadi, kau sudah tak kuning lagi? Kau kelihatan lebih cerah” ujar Chon setelah memotret mereka berdua.
Nam mengangguk sambil tersenyum gugup. Faye kelihatan tak senang.
“Aku akan menanti penampilan kalian berdua saat festival” ucap Chon membuat Faye dan Nam tersipu malu.

“Lihat kan Nam, pada akhirnya Chon akan memakan umpan darimu. Kau hanya harus lebih cerah dan optimis” ujar Cheer.
“Menjadi lebih baik dan indah,” sahut Gie. Nam mengangguk sambil tersenyum.
“Kalau kau ragu soal keindahan, kenapa tidak pindah saja ke klub lain?”sindir Faye.
Nam cs emosi mendengar hinaan dari Faye hingga memulai pertengkaran. Membuat murid-murid lainnya yang mengantri terdorong ke depan. Guru Orn menyuruh murid-murid yang membuat masalah pergi dari barisan kecuali Faye dan temannya, Kwan. Ya, Guru Orn memang pemilih.

Faye, yang masih dendam pada Nam, meracik minuman dengan bumbu khusus. Ketika Nam lewat ia memanggilnya dan memberi minuman itu sebagai tanda maaf. Nam menerima minuman itu tanpa curiga sedikitpun. Namun sebelum meminumnya Pin, senior Nam yang sekelas dengan Chon menahan tangan Nam dan menyuruh Faye untuk mencoba minuman itu lebih dulu. Rupanya sedari tadi ia memperhatikan Faye.
“Kenapa kau tak mau minum?”tantang Pin.
Faye salah tingkah.
“Lain kali hati-hatilah jika kau tak mau meminum air dengan kecap ikan” nasihat Pin pada Nam, “Pergi dan buang minuman itu!”
Nam menurut. Sementara Pin kembali ke bangku Chon dan kawan-kawan sambil menceritakan perbuatan Faye, “Lihatlah tingkah gadis itu.”
Dan hilang sudah kesempatan Faye memikat hati Chon.

Guru Inn yang tak menemukan satu pun peminat akhirnya memutuskan menghampiri Nam cs yang baru didepak dari klub tari. Ia mengetes Nam cs dengan asal kemudian mengatakan bahwa mereka sudah diterima di klub drama. Dan mereka ditunggu di auditorium. Matanya lalu menangkap minuman Nam yang belum dibuang dan tanpa pikir panjang langsung meminumnya! Reaksinya seperti yang bisa dibayangkan. Ia hampir memuntahkan minumannya di depan Kepala Sekolah. Nam cs langsung mencegah Kepala Sekolah yang juga ingin meminum minuman itu.

Nam cs datang ke auditorium terlambat sehingga Guru Inn menghukum mereka tak boleh ikut drama. Dengan senang hati Nam cs menerima hukuman itu sampai Guru Inn langsung membatalkan hukumannya.
Cheer berusaha menjelaskan kalau mereka ingin ikut klub tari, namun belum selesai Cheer ngomong, Chon muncul juga di auditorium. Rupanya ia juga dipaksa ikut oleh Guru Inn. Nam menggunakan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan Chon dan setuju bergabung dengan klub drama.

Klub drama akan mementaskan Drama Bahasa Inggris Snow White dan karena Nam yang terbaik dalam pelajaran Bahasa Inggris, ia terpilih jadi Snow White. Chon? Dia terpilih jadi kelinci merangkap penata panggung.

Guru Inn kemudian mengajak Guru Phol dan Guru Orn untuk melihat hasil tata rias anak didiknya. Ia membual kalau anak didiknya mengerti tentang keindahan, namun ketika mereka sampai mereka dihadapkan oleh anak-anak drama yang berdandan kacau dan asal-asalan.
“Ini panggung drama atau panggung komedi Guru Inn?”sindir Guru Orn.

Hari menjelang gelap, latihan drama Nam usai. Ia pergi ke belakang panggung yang dipikirnya sepi orang. Ternyata ada Chon disitu dan mereka hanya berdua.
“Oh, kau sudah mau pulang?”tanya Chon yang sedang asik memotret.
Nam mengangguk. Matanya justru fokus pada buku 9 Metode Cinta di dekat Chon. Ia khawatir Chon berpikir macam-macam setelah melihat buku itu. Buru-buru ia ambil semua buku itu saat Chon sedang memotret hal lain. Kemudian sebuah kertas jatuh di dekat kaki mereka. Nomor telepon Chon!
Dengan sigap, Nam segera menutupi kertas itu dengan kakinya. Ia menyeretnya sepanjang pulang.
“Hati-hati ya...” ujar Chon yang tak sadar soal kertas itu. Ia lebih heran pada Nam yang berjalan terseret-seret padahal saat datang berjalan dengan normal.

Guru Inn diam-diam mematai Guru Orn yang mampu mendandani muridnya dengan sangat baik. Tak mau kalah akhirnya ia meminta bantuan Pin untuk menjadi ahli tata rias drama. Ia menyuruh Pin untuk mendandani Nam lebih dulu. Chon, dibelakang Nam, memberi isyarat pada Pin agar melakukan yang terbaik. Kemudian Nam mulai didandani oleh Pin.
Tak lama Nam berganti baju, ia muncul dan memukau teman-temannya. Nam terlihat lebih bersih dan cantik. Semua memuji keahlian Pin merubah Nam . Namun yang Nam harapkan adalah reaksi dari Chon. Dan Chon bilang, “Dia tampak sama. Snow White dengan kawat gigi.”
Jleb!
Besoknya Nam segera melepas kawat giginya.

Saat latihan drama, yang berperan sebagai Pangeran tiba-tiba terkena diare. Guru Inn memerintahkan Chon yang saat itu sedang melukis pohon untuk sementara mengganti peran Pangeran. Dan adegan yang diperankan adalah adegan Pangeran yang mencium Snow White agar bangun dari tidurnya. Nam menanti ciuman Chon dengan berdebar-debar. Sementara teman-temannya sudah heboh. Ia memejamkan mata. Namun saat ia membuka matanya lagi, sang Pangeran asli sudah kembali dari sakit diarenya dan bersiap mencium Nam.

Nam yang kaget karena saat membuka mata wajah Chon berubah, langsung lompat dari kasurnya. Karena panik ia tersandung ujung panggung dan mau jatuh. Beruntung tangan Chon menariknya dan menahannya agar tak jatuh. Chon langsung menarik Nam hingga ke pelukannya dan menegurnya, “Kau hampir mematahkan lehermu!”

Nam menunduk menyesal sementara hatinya berdebar tak karuan.

Malamnya Nam berusaha menelpon Chon dengan nomor yang baru ia dapat. Begitu tersambung langsung terdengar suara Chon. Namun belum selesai Chon bicara, Nam sudah menaruh telponnya lalu berteriak kegirangan. Saat ia kembali, Chon rupanya telah menutup teleponnya.

Hari pentas seni pun tiba. Seperti biasa, pertunjukkan tari Guru Orn mendapat sambutan hangat dari murid-murid sekolah. Semua memadati kursi penonton hanya untuk melihat Faye cs yang cantik menari. Sementara ketika pertunjukkan Drama Guru Inn, satu persatu murid meninggalkan bangku penonton. Hanya ada beberapa yang bertahan dengan tidak penuh minat.

Nam tak melihat Chon diantara penonton. Yang ada malah seorang cowok tampan yang tak ia kenal memandangnya dengan terpesona. Ia bermain drama dengan lesu. Sementara Chon ternyata baru dapat pengumuman kalau ia memenangkan lomba fotografi. Ia harus pergi untuk mengambil hadiahnya bersama Kepala Sekolah.

Di belakang panggung, Guru Inn memuji kinerja anak-anak didiknya. Ia bahkan berjanji akan mentraktir semua anak didiknya makan malam. Di meja Nam ada sebuah apel dan pesan di bawahnya. Untuk Snow White, saya sudah mencicipinya. Apelnya tak beracun. Nam memandangi Apel itu dengan senang.
“Dari siapa?”tanya Cheer tertawa geli karena melihat apelnya sudah digigit.
“Pasti dari Chon”ucap Nam senang.
“Mungkin dari anak itu” Nim menunjuk cowok yang berperan sebagai Pangeran yang sedang memakan apel, dan memandang Nam penuh minat.
“Euhh...” Nam geli. Sementara Cheer cs tertawa mengejeknya, “Pangeran kodok! Sungguh cocok dengan putri kodok!”

Malamya Nam melampiaskan kekesalan pada Tuan Kancing. Ia berpikir Chon pasti hanya memilih datang ke pertunjukkannya Faye dibanding dirinya. Ia lalu membuang Tuan Kancing meski kemudian ia memungutnya lagi dari tong sampah.

Keesokan harinya, Chon sedang asik mengobrol bersama teman-temannya ketika seorang cowok menepuk bahunya, “Hei, kau tak menyapa ayahmu ini anakku?” canda cowok itu.
Chon menoleh dan kaget. Ia langsung memeluk cowok itu dan mengenalkannya pada teman-temannya, “Ini Top, dia temanku sejak TK.”
Top rupanya langsung terkenal di kalangan gadis-gadis karena dia tampan (meski buatku Chon yang paling tampan) dan merebut popularitas Chon. Top lebih ramah, dan easy going. Ia menyapa semua gadis di jalan, sampai Chon menghentikan tingkah playboynya dan mengajaknya ke kantin.

Di kantin rupanya drama Snow White yang diperankan Nam diputar berulang-ulang kali. Semua tak ada yang mengenali bahwa Snow White disana adalah Nam, dan Nam yang kini lebih manis dan cantik langsung terkenal di kalangan cowok-cowok. Sementara Chon dan Top juga melihat Tv yang sama.
“Wah itu Snow White yang sedang diputar di TV. Dia manis. Apa dia sudah punya pacar?”tanya Top benar-benar terpesona dengan Nam.
“Sepertinya belum, tapi kurasa kau tak boleh mendekatinya”jawab Chon.
“Kenapa?”tanya Top heran.
“Bukannya dia terlalu muda untukmu?”
“Ah aku bahkan sudah biasa meminta no telepon anak kelas 5 SD,” ujar Top.

Chon, “????!”
Tahun berikutnya....

Chon dan Top bermain sepak bola seperti biasa, sampai Top menyuruh Chon melakukan tendangan pinalti. Chon tersinggung dan marah-marah karena Top selalu menyuruhnya melakukan pinalti. Top yang tahu trauma sahabatnya bertanya, “Kau masih belum pulih dari trauma mu itu? Ayahmu sendiri mungkin sudah lupa.”
Chon mengelak, “Bukan, karena terlalu mudah makanya tak kulakukan!”
Top ngalah, “Iya deh Cristiano Ronaldo....”
Di tengah jalan mereka dihentikan oleh cewek-cewek dari grup mayoret yang ingin foto bersama Top. Chon menawarkan dengan sukarela untuk memotret mereka. Namun baru gambar pertama, kedua cewek itu sudah bertengkar merebutkan posisi paling dekat dengan Top. Pertengkaran itu menarik perhatian siswa mayoret yang lain, mereka pun tawuran. Guru Inn datang melerai, sementara Top dan Chon kabur dari tempat itu.
“Hei, kau bisa membuat keadaan jadi seperti ini?” tanya Chon kagum. Top hanya mengangkat bahu.

Kedua Siswi itu akhirnya terluka karena pertengkaran barusan. Yang satu leher dan kakinya, yang satu lengannya. Mereka dipastikan takkan bisa memimpin grup mayoret. Kepala Sekolah akhirnya memutuskan akan berkonsultasi dengan Guru Orn. Guru Inn cemberut mendengar nama Guru Orn disebut. Tiba-tiba ia melihat raket melayang di belakangnya. Rupanya Nam dan kawan-kawan melempar raket untuk bisa mengambil cock yang tersangkut (Nam sekarang sudah jauh lebih cantik, bersih dan putih, rambutnya juga panjang). Guru Inn langsung dapat ide.

Guru Inn menghampiri Nam dan Cheer yang sedang istirahat. Ia memuji-muji Nam, “Nam, seumur hidupku aku tak pernah melihat orang sesempurna, sebaik dan secantik kamu...”
Nam yang tahu Guru Inn dulu bahkan pernah menghinanya sebagai si kulit hitam berkata, “Guru, katakan saja langsung, apa yang kau ingin aku lakukan?”
Guru Inn pun meminta secara langsung supaya Nam menjadi pemimpin Mayoret sekolah untuk Festival Olahraga kota. Nam tadinya mau menolak karena festivalnya tinggal 2 minggu lagi, dan ia sama sekali tak ada persiapan, namun Guru Inn memohon-mohon pada Nam.

Dalam latihan pertama, Nam bahkan tak bisa menangkap tongkat mayoretnya sama sekali. Ia melemparnya sangat tinggi sehingga seluruh murid-murid pada berlarian karena takut tertimpa.

Nam putus asa. Ia merasa tak mungkin bisa melakukan lemparan tongkat mayoret. Cheer cs menyemangatinya. Cheer membacakan metode terakhir dalam buku 9 Metode Cinta yang sesuai keadaan Nam saat ini.
Metode terakhir *ini juga tahu-tahu sudah terakhir*:
“Jika kamu ingin melakukan sesuatu karena cinta maka lakukanlah habis-habisan dan dengan sepenuh hati, maka dia akan datang padamu.”
Nam menghela nafas. Ia merasa tak percaya diri. Nim memegangi bahunya dan menyemangati, “Hey, Nam.. kamu sudah sampai sejauh ini... (selama lebih dari 2 tahun jatuh cinta pada orang yg sama) dan berjuang sekuat tenaga. Kamu kali ini tak hanya menjadi pemimpin mayoret sekolah kita, tapi menjadi perwakilan provinsi. Berjuanglah Nam...”
Nam akhirnya berlatih siang-sore-malam di lapangan. Bahkan ketika lapangannya sedang dipake Chon dan Top cs untuk bermain sepak bola, Nam masih berlatih. Hal itu menarik perhatian Top yang jadi tak konsentrasi bermain bola dan membuat Chon kesal lalu menyeretnya, “Lagi-lagi kau melirik gadis-gadis!”

Guru Inn sedang meyakinkan Kepala Sekolah bahwa grup mayoretnya akan menjadi yang terbaik. Ia bahkan memuji-muji Nam yang akan menjadi pemimpin grup mayoret. Baru selesai memuji, tiba-tiba terdengar teriakan Nam.
“Awas Guru!”
Dan tongkat mayoret melayang ke arah mereka berdua. Nam segera berlari mengambil tongkat tersebut sambil minta maaf.
“Jangan bilang kalau dia yang akan jadi pemimpin Mayoret sekolah ini...” kata Kepala Sekolah. Guru Inn mencoba meyakinkan kalau kegagalan Nam tadi adalah yang pertama. Belum selesai Guru Inn ngomong, tiba-tiba sebuah benda bergulir di depan mereka. Rupanya Nam baru saja mematahkan kepala tongkat mayoretnya hingga rusak.
“Ganti dia, atau kau yang akan kuganti”ujar Kepala sekolah pada Guru Inn sambil berjalan pergi.
Guru Inn panik, “Tapi Festivalnya tinggal seminggu lagi!”
Nam mengintip dari balik pohon dengan perasaan bersalah.

Faye dan Kwan sedang berjalan sambil membicarakan soal Guru Inn yang keras kepala mempertahankan Nam, “Aku heran kenapa ia tak memilih kita yang cantik dan berbakat, Guru Inn begitu mengerikan, setiap siswanya juga mengerikan. Untung kita tak berada di kelasnya, kita mungkin takkan populer seperti sekarang.”
Nam yang mendengar perkataannya Faye marah, ia berniat akan melabrak Faye namun ditahan teman-temannya, “Kenapa kau membicarakan Guru Inn seperti itu?!”
“Pada kenyataannya seperti itu” jawab Faye santai.
“Dasar wajah serangga!” ledek Kwan, mereka lalu kabur.
Nam emosi, “Aku akan membuktikan pada mereka bahwa Guru Inn bukan orang yang mengerikan!”
Ia pun berlatih lagi dengan menggunakan sapu, sebagai pengganti tongkat mayoretnya yang rusak. Ia masih belum berhasil.

Malamnya, Chon dan Top sedang dalam pertandingan percobaan, dan Nam juga berada disitu untuk latihan. Ayah Chon dan temannya juga datang untuk melihat latihan anaknya. Saat pertandingan, timnya Top dan Chon mendapat giliran penalti. Saat Top mau melakukan eksekusi, Chon menahan Top. Rupanya ia mau mencoba melakukan penalti. Ayah Chon yang melihat gelagat anaknya memutuskan ingin pergi dari tempat itu karena takut, namun ditahan temannya. Top memberi kesempatan pada Chon.

Tendangan pinalti Chon membentur tiang gawang. Chon depresi. Kata-kata hinaan Ding tentang ayahnya terngiang-ngiang di kepalanya. Ayahnya pun tak kuat melihatnya dan berniat segera pergi, namun temannya masih tertarik untuk melihat dan menahan ayah Chon. Top menepuk bahu Chon dengan senyum. Temannya yang bermain di tim lawan memberinya kesempatan kedua, “Yang tadi hanya pemanasan.”
“Mana ada aturan seperti itu...”kata Chon kesal.
“Ada” kata Top dan kawan-kawannya.
“Terlebih lagi aku belum meniup peluit”sahut Guru Phol. Chon tersenyum senang. Ia mencoba melakukan tendangan lagi.

Goal! Chon disambut histeria teman-temannya. Ayahnya juga sangat senang, dan pergi dengan lega dari tempat itu. Semua menyoraki Chon termasuk Nam yang ikut tersenyum senang untuk Chon. Chon akhirnya menerima tawaran Guru Phol untuk menjadi pemain tetap di Klub Sepak bola Sekolah. Teman-temannya senang, namun pandangan mata Chon menatap penuh arti ke arah Nam yang berdiri di samping bangku penonton. Nam tersenyum sambil menatap tongkat mayoretnya.

Di kamar Nam memandangi Tuan Kancing, “Aku mengerti”ucapnya penuh senyum keyakinan. Nam lalu berlatih siang, malam, seminggu tanpa henti. Dan latihannya akhirnya membuahkan hasil. Dia sudah mampu menangkap tongkat mayoretnya. Di sekolah Guru Inn senang dengan perkembangan Nam. Ia membanggakan Nam di depan Guru Phol dan Guru Orn. Guru Phol memberikan aplause, sementara Guru Orn terlihat tak senang.
Hari Festival tiba. Nam dengan pakaian leader mayoretnya terlihat sangat cantik, mereka berparade keliling kota. Ia juga ditonton oleh Pang dan Ibunya.
“Bagaimana, apakah kakakmu terlihat cantik seperti ibu?” tanya Pim.
“Yang benar saja! Kakak lebih cantik dari pada Ibu!”jawab Pang. Pim memeluk Pang sambil tersenyum senang.

Chon dan Top juga ikut menonton parade. Chon sibuk memotret Nam, sementara Top memandangi Nam dengan terpesona, “Aku takkan mau pindah kemana-mana lagi...”
Chon menggerutu, “Aku selalu mendengar hal yang sama darimu terus!”

Hari Valentine. Popularitas Nam langsung meningkat sejak Festival. Semua cowok tergila-gila padanya. Ia mendapatkan banyak coklat dan hadiah valentine.
“Padahal Valentine tahun lalu dia masih berkulit gelap” ujar Cheer geli. Tapi Nam kelihatan tak bersemangat. Gie menanyakan keadaannya.
“Dia menunggu satu-satunya pria, justru ia tak datang” ucap Cheer. Siapa lagi kalau bukan Chon.
Nim tiba-tiba berseru heboh. Rupanya Chon datang.

Ia membawa pohon mawar putih yang masih ada akarnya. Cheer cs mendorong Nam yang terlalu nervous untuk keluar. Hatinya dag-dig-dug, apalagi Chon tersenyum manis ke arahnya. Namun senyum Nam harus hilang ketika Chon mengatakan hanya mengantarkan mawar dari temannya. Nam memandang punggung Chon yang pergi dengan hati kecewa.

Di kamar Nam masih melihat pohon mawar itu dengan sedih. Saat ia memutuskan untuk belajar, secarik kertas terjatuh dari bukunya. Sebuah surat, Nam, sampai bertemu jam empat di depan tangga sekolah. Ada yang ingin kukatakan padamu. Nam tersenyum. Harapannya bangkit lagi.

Nam menunggu di depan tangga sekolah dengan berdebar-debar. Apalagi ketika ia melihat sekolah sudah mulai sepi, dan Chon datang ke arahnya. Chon tersenyum dan memanggil namanya, “Nam...”

“Rupanya kau datang...”tiba-tiba Top berdiri di antara mereka. Nam terkejut. Ia meremas kertas di tangannya.
“Kak Top yang memberiku surat ini?”tanya Nam takut.
Top mengangguk, “Ya, surat itu milikku.”
“A... ada yang ingin kau bicarakan padaku?”
Top memandang Nam penuh senyum, “Maukah kau menjadi pacarku Nam?”
Nam terkejut. Ia tak mengharapkan Top yang mengatakannya. Matanya beralih ke Chon, “Ka Chon ingin mengatakan sesuatu padaku?”
Chon berjalan ke arah Top dan Nam sambil tersenyum, “Ah, aku hanya ingin bertanya kenapa kau masih ada disini. Tapi pertanyaanku sudah terjawab...”
Chon menepuk bahu Top kemudian pergi. Nam menatap kepergiannya dengan tak percaya.
“Jadi jawabannya apa Nam? Jika kau diam saja aku akan menganggap kau oke dengan itu”ujar Top.
Nam membeku.

“Hah?! Top?!”seru Cheer cs dengan tak percaya. Nam mengangguk lesu.
“Bagaimana bisa?”tanya Cheer, “Lalu, Chon hanya mengatakan itu?”
Nam mengangguk lagi.
“Lalu apa jawabanmu pada Top, Nam?”tanya Nim.
“Aku tak menjawab. Apa yang harus kulakukan Cheer...?”keluh Nam.
“Kau harus menunggu dan melihat. Top adalah sahabat baik Chon, jika kau melakukan sesuatu tanpa pertimbangan maka Chon pasti akan marah padamu...”

Nam sedang jalan-jalan di siang hari ketika motor Top berhenti di dekatnya. Top mengajak Nam untuk pergi bersamanya. Tadinya Nam menolak, namun ketika Top mengatakan kalau hari ini adalah hari pertandingan pertama Chon, Nam langsung ingin ikut. Di pertandingan Chon yang kelelahan menghampiri bangku Nam dan meminta air, Top tak punya karena baru ia berikan pada Nam. Nam akhirnya memberi punyanya. Chon meminum air pemberian Nam dan menyiram wajahnya. Nam melihatnya dengan terpesona. Pertandingan hari itu, Chon menang.

Nam pulang bersama Chon dan Top. Ia dibonceng oleh Top, sementara Chon mengendarainya sendiri. Mereka mengendarai motor sambil saling mengobrol. Suara hati Nam saat itu, Kau tahu Tuan Kancing? Aku ingin berada di belakang Chon, di sepeda motornya...

Bersambung....  
A Little Thing Called Love / First Love PART IA Little Thing Called Love / First Love PART II 
A Little Thing Called Love / First Love PART III

04 Juni 2011

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Saat Menghadapi UTS

Pelajaran yang dapet diambil dari UTS, yaitu :
  1. Jangan menganggap remeh pelajaran yang dianggap mudah, sehingga mengurangi waktu Belajar.
  2. Banyak-banyak mengerjakan soal latihan.
  3. Dalam pengerjaan UTS, jawaban harus dibuat sejelas mungkin dengan memperhatikan setiap langkah kerja yang ditulis.perhatikan setiap jawaban yang anda tulis.
  4. Jika anda sudah buntu dalam UTS, coba tuliskan beberapa langkah-langkah, mungkin masih bisa mendapatkan nilai beberapa poin.
  5. Jangan mencoret-coret kertas jawaban ujian dengan menggambar hal-hal ga penting, seperti menggambar wajah pengawas ataupun wajah dosennya. Iya kalo hasil gambarannya bagus, kalo gak?? siap-siap aja deh.
  6. Jangan lupa berdoa sebelum mengerjakan UTS.
  7. Jangan terlalu banyak membuang waktu dalam mengerjakan soal yang susah. Kerjakan dahulu yang menurut anda mudah.
  8. Jangan sekali-kali anda berani mencontek di PCR.karena mata pengawas dewa-dewa n siap siaga. Siap-siap aja kena CO kalo ketahuan mencontek.
  9. Jangan sampai anda saat mengerjakan UTS dalam keadaan lapar atau mengantuk, karena akan mengganggu konsentrasi ada.
  10. Siapkan mental dalam menerima hasil UTS. Saingan begitu banyak,,bisa membuat anda jatuh mental. hahaha :D
UTS dan UAS berikutnya semoga lebih baikk...  :)

20 April 2011

DAD, I LOVE YOU

Hai sahabat blogger, Nova mau share artikel bagus ni... khususnya buat kamu cewek-cewek. 
note ini repost dari seorang sahabat fb yg bernama Fauzi,  tapi maknanya tetep  gag berkurang kok. dibaca yah :)
Biasanya anak-anak yg jauh dari orang tuanya merasa kangeen banget ama mamanya (bener gag??). Lalu bagimana dgn papa? Mungkin mama lebih sering menanyakan keadaan anaknya setiap hari. Tapi tahukah kamu jika papamu yg mengingatkannya utk menelponmu? Mungkin mama yg lebih sering mengajakmu bercerita, tp tahukah kamu sepulangnya ia bekerja dgn wajah lelah ia selalu menanyakan kabarmu dari mamamu?
Waktu kecil...
Papa mengajari putri kecilnya bermain sepeda. Setelah dia mengganggap kamu bisa ia melepaskan roda bantu di sepedamu, Saat itu mama menutup mata karena takut anaknya terjatuh lalu terluka, tapi ayah dgn yakin menatapmu mengayuh sepeda dgn pelan karena dia tahu putri kecilnya pasti bisa.
Saat kamu menangis meronta meminta boneka yg baru, mama menatapmu iba,t etapi ayah mengatakan dgn tegas "kita beli nanti, tapi tidak sekarang" karena ia tidak ingin kamu jadi manja dgn semua tuntutan yg selalu di penuhi.
Ketika kamu remaja, kamu mulai menuntut utk keluar malam. Lalu papa mulai bersikap lebih tegas ketika mengatakan "tidak". itu utk menjagamu karena kamu adalah sesuatu yg berharga. Lalu kamu masuk ke kamar membanting pintu, tp yg dtg mengetok pintu dan membujuk mu adalah mama.Taukah kamu saat itu dia memejamkan matanya dan menahan diri, karena Dia sangat ingin mengikuti keinginanmu. Tp lagi2 dia harus menjagamu.
Saat seorang cowok mulai sering datang mencarimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia. Dan sesekali menguping atau mengintip saat kamu sdg brdua di ruang tamu. Tahukah kamu dia merasa cemburu? dan saat dia melonggarkan sedikit peraturan, kamu melanggar jam malamnya. Ia duduk di ruang tamu menunggu mu pulang dgn sangat2 khawatir. Wajah khawatir itu mengeras ketika melihat putri kecilnya pulang terlalu larut. Dia marah. Karena hal yg di takutinya akhirnya datang "putri kecilnya sudah tidak ada lagi".
Saat papa sedikit memaksamu utk menjdi seorang dokter. Ketahuilah bahwa ia hanya memikirkan masa depanmu nanti. Tp toh dia tetap tersenyum saat pilihanmu adalah menjd  seorang penulis. sampai saat papa harus melepasmu di bandara. Bahkan badannya terlalu kaku utk memelukmu. Ia hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini-itu. Dia ingin menangis seperti mama yg menangis dan memelukmu erat. Tp dia hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya dan menepuk pundakmu berkata "jaga diri baik2". Agar kamu kuat utk pergi.
Saat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yg mengerutkan kening adalah Papa. Berusaha mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dgn yg lain. Ketika permintaanmu bukan lg sekedar meminta boneka baru, dan ia tau ia tidak bisa memberikan. Dia sangat ingin mengatakan "iya nak,nanti kita beli" dan saat kata2 yg keluar adalah "tidak bisa" dari bibirnya.
Tahukah kamu Ia merasa gagal membuat anaknya tersenyum. saat kamu sakit dan tidak berada di dekatnya. Papa terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak berkata "sudah di bilang jgn minum es!".berbeda dgn mama yg memperhatikanmu dgn lembut. ketahuilah saat itu ia benar2 khawatir dgn keadaanmu.
Dan di saatnya nanti kamu wisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah org pertama yg berdiri dan memberi tepuk tangan utk mu. Dia yg tersenyum bangga dan puas melihat "putri kecilnya yg tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang".
Sampai saat seorang teman hidupmu datang dan meminta izin mengambilmu darinya. Papa akan sangat berhati2 memberikan izin.karena ia tau laki2 itu yg nanti akan menggantikannya. dan saat Papa melihat mu duduk di panggung pernikahan bersama seseorang yg di anggapnya pantas menggantikannya. Papa pergi kebelakang panggung,dan menangis "tugasku telah selesai dgn baik. Putri kecilku yg lucu telah menjadi wanita yg cantik".
Papa hanya bisa menunggu kedatangan mu dan cucu2nya sesekali utk menjenguknya. Dengan rambut yg telah memutih dan badan yg tak lagi kuat utk menjagamu dari bahaya.
Papa adalah sosok yg harus selalu terlihat kuat bahkan ketika dia tidak kuat utk tdk menangis. Harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. Papa jg orang pertama yg selalu yakin bahwa "kamu bisa" dalam hal apapun.
Tersenyum dan bersyukurlah ketika kamu bisa merasakan kasih sayang seorang papa hingga tugasnya selesai. Kamu adalah salah satu org yg beruntung. Karna papa adalah sosok superhero yg hebat.

Thankz Papa... :)
Maaf ya... bukan maksud menceramahi teman-teman atau apalah namanya. Nova cuma mau share aja dengan teman-teman semuanya...
thanks udah baca... :)

18 April 2011

Hari Pertamaku di Semester Empat

18 April 2011.
Semester 4 ku dimulai.
Tak terasa, uda 2 tahun nih menimba ilmu di PCR. dan masih ada 1 tahun lagi (amin..smoga lulus tepat waktu). Kuliah hari ini jam 7, yaitu Jaringan Komputer Lanjut, disusul dengan mata kuliah JSP dan Sistem Operasi Lanjut sampai jam 1. nah, cuma 6 jam doang kuliah hari ini. hehehe..tapi aku cukup menikmati.

Pagi-pagi jam 05.00 Nova udah nyetel alarm buat bangunin va. soalnya emang udah kebiasaan buat bangun pagi di tiap hari pertama kuliah. biar ga terlambat (gilee aje.. tapi jam 5.30 tidur lagi ampe jam 6. haha. gagal rencana di hari pertama) dan sialnya nova dengan 3 orang teman kelas va terpaksa terlambat lima menit di jam 11.05, alhasil tralala kami pun disuruh nunggu di luar, kenapa terpaksa terlambat, karena kami nungguin mie goreng yang di masakin mbak di kosan, gag mungkin kan udah pesan trus dimasakin, tiba-tiba kabur. Tapi alhamdulillah kami berempatpun di perbolehkan masuk ama bapak dosen baru, namanya kalo gak salah Bpk. Satria Perdana deh...
 
Gini nih, nova uda janji sama diri sendiri untuk gak pernah terlambat selama semester 4, soalnya selama  ini, HOBI va kadang-kadang telat, tapi herannya selamat terus dari kompen. Nah, sebagai sesorang yang menuju ke arah yang lebih baik(ceileee) , tentu harus ada beberapa hal yang perlu diubah apalagi semester 4 ni gak dibolehin telat lagi. dududu... :(
(*pengen gak ada kompen sampai lulus wisuda!! Amin...).
Sebenarnya ada banyak sih kebiasaan yang pengen va ubah, cm namanya perubahan butuh proses dan tidak bisa sekaligus banyak.

Ini nih bad habit va, antara lain : suka abis bangun tidur lagi, jadinya telat, suka main game di Lab kalo dosennya nyantai, suka main hp, suka internetan. Kayaknya itu, trus va juga suka makan permen nih, tapi kayaknya itu wajar deh, kan niatnya makan permen biar ga ngantuk.wkwk....

Terus, kayaknya bad habit, yg bisa nova ubah untuk saat ini adalah tidak telat. yaitu dengan bangun lebih pagi, dan gak tidur lagi, tapi tetep aja tadi pagi itu hampir telat. jam 5.00 alarm udah bunyi, trus  shalat and then saya tidur lagi, akhirnya jam 6 aku baru sadar. Kemudian melakukan beberapa stratching (uda lama ga olahragaaaaaaaa.....), laluuuu...lalu lalang..(apa siih?)

Di waktu jam mata kuliah sempat terpikir oleh ku sebuah keinginan, yang mungkin semua mahasiswa juga menginginkannya. (dalam hati) Pokoknya hari ini harus menjadi awal yang baik di semester 4 ku ini. Pokoknya semester 4 harus bagus nilainya, biar bisa bikin papa mama bangga kayak semester 1, gak boleh  IPK turun lagi. Harus bisa pertahanin **m ****e ini sampai akhir. hehehe.. :D (tentunya dalam hati juga bilangnya)

Intinya harus semangat, biar IPK gak turun lagi...  Ayo ayo semangat teman-teman. Karena kesalahan adalah anugrah yang hanya boleh terjadi sekali (the future depens on what we do in present) dan jangan pernah takut akan jatuh karena masih ada langit biru tersenyum padamu. Cayyo sob... Salam blogger :)

04 April 2011

Ayah Ku dan Kaleng Kecilnya

Yang ayah wariskan kepada anak-anaknya bukan kata-kata atau kekayaan, tetapi sesuatu yang tak terucapkan yaitu teladan sebagai seorang pria dan seorang ayah - Will Roger S

Setahuku, botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari di kamar orangtuaku. Sebelum tidur, Ayah selalu mengosongkan kantong celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu. Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol itu. Bunyi gemericingnya nyaring jika botol itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu, mengagumi keping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.

Jika isinya sudah penuh, Ayah menuangkan koin-koin itu ke meja dapur, menghitung jumlahnya sebelumnya membawanya ke bank. Membawa keping-keping koin itu ke bank selalu merupakan peristiwa besar. Koin-koin itu ditata rapi di dalam kotak kardus dan diletakkan di antara aku dan Ayah di truk tuanya. Setiap kali kami pergi ke bank, Ayah memandangku dengan penuh harap. "Karena koin-koin ini kau tidak perlu kerja di pabrik tekstil. Nasibmu akan lebih baik daripada nasibku. Kota tua dan pabrik tekstil disini takkan bisa menahanmu." Setiap kali menyorongkan kotak kardus berisi koin itu ke kasir bank, Ayah selalu tersenyum bangga. "Ini uang kuliah putraku. Dia takkan bekerja di pabrik tekstil seumur hidup seperti aku.".

Pulang dari bank, kami selalu merayakan peristiwa itu dengan membeli es krim. Aku selalu memilih es krim cokelat. Ayah selalu memilih yang vanila. Setelah menerima kembalian dari penjual es krim, Ayah selalu menunjukkan beberapa keping koin kembalian itu kepadaku. "Sampai di rumah, kita isi botol itu lagi."
Ayah selalu menyuruhku memasukkan koin-koin pertama ke dalam botol yang masih kosong. Ketika koin-koin itu jatuh bergemerincing nyaring, kami saling berpandangan sambil tersenyum. "Kau akan bisa kuliah berkat koin satu penny, nickle, dime, dan quarter," katanya. "Kau pasti bisa kuliah.. ayah jamin."
Tahun demi tahun berlalu. Aku akhirnya memang berhasil kuliah dan lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan di kota lain. Pernah, waktu mengunjungi orangtuaku, aku menelepon dari telepon di kamar tidur mereka. Kulihat botol acar itu tak ada lagi. Botol acar itu sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah di pindahkan entah ke mana. Leherku serasa tercekat ketika mataku memandang lantai di samping lemari tempat botol acar itu biasa di letakkan.

Ayahku bukan orang yang banyak bicara, dia tidak pernah menceramahi aku tentang pentingnya tekad yang kuat, ketekunan, dan keyakinan. Bagiku, botol acar itu telah mengajarkan nilai-nilai itu dengan lebih nyata daripada kata-kata indah.


Setelah menikah, kuceritakan kepada Susan, istriku, betapa pentingnya peran botol acar yang tampaknya sepele itu dalam hidupku. Bagiku, botol acar itu melambangkan betapa besarnya cinta Ayah padaku. Dalam keadaan keuangan sesulit apa pun, setiap malam Ayah selalu mengisi botol acar itu dengan koin. Bahkan di musim panas ketika ayah diberhentikan dari pabrik tekstil dan Ibu terpaksa hanya menyajikan buncis kalengan selama berminggu-minggu, satu keping pun tak pernah di ambil dari botol acar itu. Sebaliknya, sambil memandangku dari seberang meja dan menyiram buncis itu dengan saus agar ada rasanya sedikit, Ayah semakin meneguhkan tekadnya untuk mencarikan jalan keluar bagiku. "Kalau kau sudah tamat kuliah," katanya dengan mata berkilat-kilat, "kau tak perlu makan buncis kecuali jika kau memang mau."

Liburan Natal pertama setelah lahirnya putri kami Jessica, kami habiskan di rumah orangtuaku. Setelah makan malam, Ayah dan Ibu duduk berdampingan di sofa, bergantian memandangku cucu pertama mereka. Jessica menagis lirih. Kemudian susan mengambilnya dari pelukan Ayah. "Mungkin popoknya basah," kata Susan, lalu dibawanya Jessica ke kamar tidur orangtuaku untuk di ganti popoknya.
Susan kembali ke ruang keluarga denga mata berkaca-kaca. Dia meletakkan Jessica ke pangkuan Ayah, lalu menggandeng tanganku dan tanpa berkata apa-apa mengajakku ke kamar..



"Lihat," katanya lembut, matanya memandang lantai di samping lemari. Aku terkejut. Di lantai, seakan tidak pernah di singkirkan, berdiri botol acar yang sudah tua itu. Di dalamnya ada beberapa keping koin. Aku mendekati botol itu, merogoh saku celanaku, dan mengeluarkan segenggam koin. Dengan perasaan haru, kumasukkan koin-koin itu kedalam botol. Aku mengangkat kepala dan melihat Ayah. Dia menggendong Jessica dan tanpa suara telah masuk ke kamar. Kami berpandangan. Aku tahu, Ayah juga merasakan keharuan yang sama. Kami tak kuasa berkata-kata.

* Sebuah cerita yang SANGAT luar biasa dan cukup menginspirasiku dimana seorang ayah sangat mencintai anaknya dan selalu menginginkan yang terbaik buat anaknya. ia ingin anaknya jauh lebih baik dari dirinya sendiri. Tetapi dalam prosesnya, Ayah ini tidak saja menunjukkan cintanya pada anaknya tetapi juga menunjukkan sesuatu yang sangat berharga yaitu pelajaran tentang impian, tekad, teladan seorang ayah, disiplin dan pantang menyerah. Saya percaya anaknya belajar semua itu walaupun ayahnya mungkin tidak pernah menjelaskan semua itu karena anak belajar jauh lebih banyak dari melihat tingkah laku orangtuanya dibanding apa yang dikatakan orangtuanya.

 sumber: saya lupa.... maaf ya :(

31 Maret 2011

Andrea Hirata dan Karya-karyanya

Assalamualaikum sahabat-sahabat ku...
Sebagai seorang pecinta dunia novel di Indonesia, tentu pernah membaca atau minimal mendengar tentang pria asal belitong yang satu ini.
 
Andrea hirata merupakan seorang sarjana lulusan Universitas Indonesia yang kemudian melanjutkan studinya di Universitas Sorbonne Prancis dan Shefilled Hallam United Kingdom. Tesisnya yang bertema  ‘Eknomi telekomunikasi’ telah mendapat penghargaan dan dia lulus dengan IP cumlaude di dua universitas tersebut. Andrea atau yang akrab dipanggil ikal telah menulis empat buah buku yang dengan hebatnya mampu menyandang predikat best seller pada masing-masing buku.

Pertama kali buku Andrea masuk ke dalam pasaran, hampir setiap orang pecinta buku membicarakannya. Sehingga saya menjadi penasaran dengan novel tersebut dan membeli novel pertama yang berjudul laskar pelangi . Karena novel itu sudah ada di tangan saya, sayapun mecoba untuk membacanya. Di luar dugaan, saya sangat tertarik sampai saya ketagihan untuk membaca halaman demi halaman dalam buku tersebut. Baru satu buku saja, saya sudah merasakan bahwa Andrea Hirata adalah seorang penulis hebat yang mampu membuka mata kita tentang dunia, tentang Indonesia.

Setelah hatam membaca laskar pelangi, saya langsung mencari dua buku setelahnya yaitu ‘Sang Pemimpi dan ‘Edensor’. Thanks buat adek ku yang sudah memberi kado novel  Sang Pemimpi di hari ultah saya. Saya semakin kagum dengan pria lulusan Sorbone ini. Di setiap bukunya selalu memberikan makna yang berbeda serta cita rasa yang berbeda pula. Terlebih kisah tersebut adalah kisah nyata tentang masa lalunya, hal ini lah yang membuat saya makin mencintai buku ini.

Tidak lama setelah itu, muncul karyanya yang lain, ‘Maryamah Karpov’. Karya yang satu ini merupakan karya terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi.

Melalui tulisan ini saya akan membahas satu persatu buku karya Andrea Hirata tersebut.

Laskar Pelangi

“..and to every action, there is always an equal and opposite or contrary reaction..”

Kalimat itu merupakan kalimat dari Isaac Newton tentang hukum aksi reaksi, dan kalimat itu juga menjadi bagian awal dari buku ini. Saya yakin hampir setiap orang yang membuka ini pasti akan berpikiran, “wah berat nih”, namun saya yakin setelah dia membuka halaman pertama , kedua, dan seterusnya dia akan terbawa oleh manis ceritanya, serunya petualangan ke sepuluh orang anak kecil yang menamakan diri mereka ‘Laskar Pelangi’.

Ikal, itulah nama yang digunakan oleh Andrea Hirata untuk dirinya sendiri di buku tersebut. Entah mengapa di dua buku pertama saya selalu menganggap bahwa Andrea tidak menempatkan dirinya sebagai tokoh utama. Dia lebih menjelaskan tentang sahabat-sahabat yang ada di sekitarnya yang mampu memberikan inspirasi ke dalam kehidupannya.

Lintang, dia lah salah satunya. Mungkin ini alasan kenapa Isaac Newton menjadi pembuka dalam buku ini. Lintang merupakan sahabat ikal yang paling cerdas, hampir atau mungkin malah menyamai Isaac Newton. Ikal sendiri selalu menyebut Lintang sebagai, “my Isaac Newton”. Tokoh Lintang ini digambarkan sebagai orang yang sangat miskin. Ayahnya hanya seorang nelayan, sementara dia harus membantu menghidupi ke dua adiknya. Namun miskin harta bukan berarti miskin ilmu, semangat belajar Lintang sangat tinggi. Bahkan ketika bu Muslimah, guru mereka absen mengajar, Lintang lah yang menjadi guru bagi ke sembilan orang temannya. Namun ternyata takdir berkata lain, Ayah Lintang meninggal dunia. Terpaksa Lintang harus menjadi kepala keluarga dan berhenti sekolah. Ini merupakan epilog dari cerita Laskar Pelangi yang sangat mengharukan.

Mahar, teman ikal yang lain. Seorang anak yang sangat berbakat dalam hal seni. Seakan bakat itu tumbuh dengan sendirinya melalui hobinya mendengarkan musik melayu di saluran Radio yang seadanya. Sayangnya  kecerdasan spiritual Mahar sangat kurang, dia mempercayai dunia perdukunan da sangat terobsesi untuk menjadi seorang dukun.
Namun dibalik menyedihkannya nasib Lintang, dan kurangnya iman Mahar, terdapat hal menarik yang akan saya ceritakan ketika membahas Maryamah Karpov.

Sang Pemimpi

“Bermimpilah, maka tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”

Ini merupakan kalimat yang paling terkenal dari Sang Pemimpi, diucapkan oleh Arai, saudara sepupu Ikal. Kalau di Laskar Pelangi tokoh inspirasinya adalah Mahar dan Lintang, di jilid ke dua Arai ini lah pehatian utamanya.

Kisah ini menceritakan tentang usaha mereka dalam mengejar mimpi saat SMA, yaitu mimpi untuk sekolah di Eropa suatu hari kelak dan menjelajahi Eropa sampai Afrika. Tak pernah berhenti mereka menabung agar bisa keluar dari pulau kecil itu dan kuliah di Jakarta untuk pada akhirnya melanjutkan kuliahnya  di Eropa. Saya sering berpikir, betapa mudahnya orang-orang seperti saya untuk mendapatkan informasi tentang beasiswa. Tidak hanya melalui kertas-kertas pengumuman yang begitu ramai di mading kampus, namun fasilitas internet 24 jam juga sangat membantu dalam mencari informasi tersebut. Saya tidak pernah kepikiran untuk menabung koin demi koin dalam kotak alumunium seperti yang dilakukan Arai dengan Ikal. Novel Sang Pemimpi membuat saya agak malu menjadi diri saya yang tidak mempunyai mimpi setinggi mereka :-( .

Meski berkali-kali goyah, Ikal tetap berani bermimpi untuk mencapai cita-citanya. Semua itu karena Arai yang menyemangatinya. Arai tidak pernah  berhenti bermimpi di setiap detiknya. Hingga pada akhirnya mereka berdua mendapatkan kesempatan kuliah di Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, Ikal langsung kuliah di Universitas Indonesia dengan predikat cum laude. Sangat Luaar biasa. Melalui buku ini, saya mengambil sebuah kesimpulan, bahwa kita telah berhasil 50% mewujudkan mimpi kita apabila tekad kita kuat. Ya 50% tekad, 50% usaha. Tentunya disertai dengan tawakal kepada Allah.

Edensor

Jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah cahaya yang melesat-lesat di dalam gerbong di atas rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak kita mengambil pelajaran dari penglaman yang melesat-lesat itu.....


Ini merupakan buku yang membuat saya kagum. Saking saya terkagum-kagum dengan isi buku ini , saya  sampai membacanya sebanyak tiga kali. hahaha =D

Buku ini mengisahkan tentang kuliah mereka di Eropa. Salah satu hal yang saya sukai, Andrea Hirata sungguh pintar mendeskripsikan teman-temannya dari berbagai negara, MVRC Manooj dari India, Pablo Arian Gonzales dari Meksiko, Ninochka Stronovsy dari Ukrania, Virginia Sue Towsand dari Amerika,  Naomi Stansfield dari Inggris serta Katya dari Jerman.

Hmm. Saya lupa menceritakan tentang gadis bernama A ling yang muncul di ‘Laskar Pelangi’. A ling tidak lain adalah cinta pertama ikal, dan sepertinya juga menjadi cinta terakhirnya. Njoo Xian Ling atau A ling adalah seorang gadis keturunan Tiong Hoa yang dulu sempat tinggal di belitong. Baru saja Ikal dan A ling merasa dekat, tiba-tiba A ling harus pergi tanpa pamit. Kabarnya dia membantu bibinya di Jakarta dan sekolah disana. Nah, dua buku teakhir ini banyak bercerita tentang usaha Ikal yang tak pernah pupus untuk mencari dimana A ling berada.

Di Prancis, Ikal mencari A ling ke segala penjuru. Dia bahkan sampai mencari di Google. Namun A ling yang ditemuinya ternyata adalah A ling yang lain. Ada A ling yang hanya seorang bayi kecil yang baru lahir, A ling nenek tua yang kebetulan baru saja meninggal saat ditemuinya, atau bahkan A ling yang hanya sebuah papan nama laundry. Biar begitu, Ikal selalu yakin bahwa suatu hari dirinya akan menemukan A ling. ckckck

Hingga suatu hari, Arai dan Ikal mengadakan perlombaan dengan teman-teman di kampusnya. Lombanya adalah banyak-banyakan mengunjungi negara di Eropa, tentu saja modal ditanggung sendiri. Perlombaan ini diikuti oleh orang-orang yang berasal dari negara yang berbeda, di antaranya Inggris, Amerika, India, Meksiko dan Indonesia yang diwakili oleh Arai dan Ikal.

Akhirnya mereka berangkat mengelilingi Eropa. Ini lah mimpi mereka sejak dulu, berawal dari sebuah sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya, kini  mereka telah menginjakan kakinya menelusuri tanah Eropa. Dalam perjalanan, kejadian seperti dirampok, nyasar, sampai kekurangan uang pernah mereka alami semuanya. Namun semangat Ikal untuk menemukan A ling tidak pernah pudar, dia terus mencari dan mencari sampai akhirnya mereka keluar Eropa dan sampai di Afrika! Tapi A ling tidak pernah tampak.

Walaupun A ling tidak berhasil mereka temukan,  mereka telah berhasil menjadi tim yang paling banyak mengunjungi Negara di Eropa bahkan ke Afrika, dan akhirnya merekalah yang menjadi pemenang. Ya dua orang Indonesia yang berasal dari pulau kecil berhasil memenangkan pertandingan ini hanya bermodal tekad dan keyakinan.

Buku ini berhasil membuang jauh-jauh pemikiran bahwa Indonesia bangsa yang lebih rendah dari bangsa Eropa dan Amerika. Tekad kuat Arai dan Ikal membawa saya ke sebuah keyakinan bahwa walaupun kita memiliki banyak kekurangan, namun kita selalu mempunyai kesempatan untuk memperbaikinya. Dan saat itulah muncul sesuatu yang tanpa kita sadari, kita mampu menjadi lebih hebat dari siapapun.

Maryamah Karpov
“..Tahukan dirimu, Kawan? Dalam serpih serpih cahaya, dan gerak-gerik halus benda-benda, tersimpan rahasia, mengapa kita ini ada..”

Dari semua karya Andrea Hirata, karya inilah yang paling membuat saya terkagum-kagum sampai hampir tidak percaya. Sebagian besar dari buku ini menceritakan tentang budaya di pulau Belitong serta karakter-karakternya yang dijelaskan secara sempurna oleh sang penulis.

Kembali ke kekaguman saya, di pertengahan buku kisah ini menceritakan Ikal yang hendak membuat perahu untuk mecari A ling di Batuan. Sebuah tempat yang sangat berbahaya untuk di datangi. Hampir semua orang tidak dapat pulang ketika berlayar ke sana. Melalui bukunya, Andrea menceritakan bagaimana dia dicerca dan ditertawakan oleh  penduduk setempat karena melakukan hal yang di luar batas akal sehat. Namun dibantu dua orag teman lamanya, Lintang dan Mahar, dia berhasil melalui semua ini.

Ya, di sini Lintang kembali eksis. Dia tidak suram seperti dulu ketika terakhir kalinya bertemu di Laskar Pelangi. Dia telah berhenti menjadi supir truk dan beralih menjadi petani kopra yang sukses. Dari sinilah saya belajar bahwa ilmu itu bukan masalah uang. Ilmu itu ada di setiap nafas yang kita hela, dan setiap senti tanah yang kita pijak. Terbukti dari kisah Lintang, dia berhasil memakmurkan dirinya bahkan tanpa harus membayar mahal untuk sekolah. Dia masih mampu menggali ilmu,  buktinya dia mampu memberikan hukum-hukum fisika pada perahu yang akan dibuat Lintang sehingga perahu itu layak mengarungi samudra. Lalu bagaimana dengan kita? Yang setiap harinya duduk di bangku kelas atau di bangku kuliah, mengisi absen, membayar mahal. Memalukan sekali kan bila tau kenyataan bahwa kita masih belum bisa menerapkan ilmu kita seperti Lintang?

Dan Mahar, masih tetap sesat seperti dulu. Malah jauh lebih sesat. Dia menguasai ilmu-ilmu hitam. Namun ternyata dia belum lupa dengan sahabatnya, Ikal, dia bersedia mengarungi lautan bersama demi mencari orang yang paling dicintai ikal selama ini, A ling. Dan di novel ini juga Arai akhirnya mendapatkan cinta Nurmala,  seorang cewek yang selalu menolak cintanya sejak SMA hingga kuliah S2 di Sorbone, namun keyakinan Arai dan cintanya akhirnya bisa menaklukkan hati Nurmala, lalu mereka menikah.

Cerita Maryamah Karpov tidak berakhir bahagia. Meski A ling akhirnya ditemukan, keduanya tidak bersatu karena sebuah alasan, yaitu ayah Andrea tidak menyetujui mereka menikah karena berbeda agama. Tapi tidak mengapa, karena ini semakin membuktikan saya bahwa cerita ini adalah nyata. Mungkin sampai saat ini Andrea masih belum menemukan happy endingnya dengan A ling.

Begitulah keempat novel karya Andrea Hirata yang sangat spesial di hati saya. Andrea berhasil memberikan warna baru dalam dunia pernovelan Indonesia. Dia menyuguhkan cerita-cerita yang menggugah jiwa, melalui genre yang berbeda.

Melalui karyanya, saya tau caranya bermimpi.

Melalui karyanya, saya yakin tidak ada yang mustahil.

Melalu karyanya, saya bangga menjadi bangsa Indonesia.