Tampilkan postingan dengan label Resensi Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Novel. Tampilkan semua postingan

20 Juli 2011

A Little Thing Called Love / First Love PART III

Top menemui Chon untuk menceritakan semuanya, “Dari semua gadis yang bersamaku, ini yang paling menyakitkan.... Aku mohon satu hal saja padamu Chon... Tak peduli apa yang terjadi, kau tak akan memacari Nam kan?”
“Apa kau berpikir, alasan Nam memutuskanmu adalah aku?”, tanya Chon.
“Tidak. Hanya aku tak tahan, jika sahabat terbaikku berpacaran dengan gadis yang kucintai...”


Chon memandang keluar sambil menghela nafas, “Jika kau mengatakan seperti itu, aku bisa apa?”
“Tak apa-apa kan buatmu?”tanya Top.
“Iya” jawab Chon. Mereka berdua kemudian saling menjabat tangan.

Hari-hari berikutnya dilalui Nam seorang diri. Tak ada lagi teman-teman bersamanya, tak ada lagi Top yang menjemputnya ke sekolah dan Chon juga seperti menghindarinya. Ketika ia melihat Top yang digoda Faye dengan trik ‘terkilir kaki’ ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia memutuskan untuk fokus belajar agar mendapat ranking satu. Meski ia sering terbayang Chon jika ia melihat Tuan Kancing dan membuatnya menangis sendirian.

Di rumahnya Chon bermain sepak bola dengan ayahnya yang sekarang tak takut lagi.
“Chon, kau tahu, tadi Manajer Bangkok Glass meneleponku...”kata ayahnya.
“Lalu?”tanya Chon masih fokus ke bolanya.
“Dia bilang kalau dia akan menerimamu di Klub Bangkok Glass”
Chon tak percaya, “Ayah menipuku agar bisa merebut bola dariku ya...”
Ayahnya tertawa, “Untuk hal sepenting ini siapa yang berbohong. Setelah ini kau harus segera bersiap-siap. Mungkin setelah lulus ujian tahun ini, kau akan pergi belajar ke Bangkok.”
Chon senang sekali, ia menghampiri ayahnya dan memeluknya, “Ayah! Terima kasih...!”

Hari ujian tiba, Nam menjalankan ujiannya dengan serius. Ia ingin bertemu dengan ayahnya yang di Amerika.

Di luar Guru Inn sedang sangat sedih. Guru Phol mendapat beasiswa untuk melanjutkan study ke luar. Guru Inn meminta sesuatu pada Guru Phol. “Apa?”tanya Guru Phol. Guru Inn menunjuk ke arah hati Guru Phol. Guru Phol salah paham, ia malah memberikan peluit miliknya. Tak lama datang Guru olahraga baru yang akan menggantikan Guru Phol. Ternyata guru yang baru lebih keren dan ganteng daripada Guru Phol, Guru Inn langsung menghampiri Guru baru itu dan mengacuhkan Guru Phol. Guru Phol cuma bisa garuk-garuk kepala bingung.

Tahun pelajaran berikutnya...

Hari itu Cheer memutuskan tak akan melanjutkan sekolah yang sama dengan kawan-kawannya. Ia akan memasuki sekolah kejuruan. Saat mereka asik mengobrol, Nam datang dan suasana langsung tak enak. Nam duduk dengan sedih di jarak yang tak jauh dari mereka. Ia memandangi wajah Cheer dan masih berharap Cheer akan memaafkannya. Rupanya hati Cheer masih belum luluh. Nam dengan sedih menyanyikan lagu yang dulu mereka nyanyikan bersama-sama.

“Senin aku menunggu... Selasa aku masih menunggu dan melihat, melihat apakah kau baik-baik saja... Rabu kau masih tak ada disini, pagi hari atau kemudian, Kamis juga masih kosong...”

Gie tak tahan, ia menghampiri Nam dan mereka bernyanyi sama-sama sambil menangis.

“Jum’at, Sabtu atau Minggu, tiada hari tanpa merindukanmu... Tiada hari kau akan kembali...”

Nim ikut menangis meski ia masih ada disamping Cheer, sementara Cheer masih bertahan.

“...menjadi tua dalam hari-hari kita... hari dimana kau ada disampingku, hari dimana kau ada di dekatku, hari dimana kita saling berpegangan tangan...”

Nam mendekati Cheer, “...hari dimana aku mencintaimu, hari dimana aku berbicara denganmu, hari dimana kau mendengarkanku....”Akhirnya Cheer menangis dan ikut bernyanyi, “...Berapa lama aku akan seperti ini aku tak tahu, Berapa bulan atau berapa tahun....”

Mereka berempat saling berpelukan dan menangis bersama. (aslinya ini lagu ceria, tapi pas dinyanyikan ma mereka jadi kelihatan sedih...), “...berapa miliar kenangan masa lalu kita bersama, aku selalu merindukanmu...”
“Cheer, Nam minta maaf” isak Nam.
Cheer menangis, “Kenapa kau menangis? Menyanyikan lagu seperti kita sedang berakting di opera sabun saja...”
“Ya...” kata Nam masih menangis, “Kenapa kita menangis? Kita tidak menangis, kita sedang tertawa...”
Mereka pun menyanyikan lagu nya bersama-sama.

Nam sedang menyapu dan beres-beres rumah ketika Cheer cs datang dan memberitahu kalau mereka bertemu dengan Guru Inn di toko eskrim, “Dia mengatakan kalau dalam ujian.... Nam mendapatkan.... “
“Aku mendapatkan apa? tanya Nam tak sabar.
“Nam.... Nam...dapat ranking 1...”
Nam terkejut. Ia melompat-lompat senang kemudian memeluk ibunya. Ibunya mengatakan sekarang Nam sudah bisa bertemu dengan ayahnya. Nam semakin senang. Pang(adik Nam) melihatnya iri. Ia mendapatkan ranking 8 tapi ia ingin ikut dengan Nam. Nam tak mengizinkan.
Saat itu tiba-tiba Nam langsung memikirkan Chon.

Di hari yang sama, Pang kedatangan temannya. Dia mengantarkan foto cowok yang Pang taksir. Nam yang tertarik menghampirinya dan menggodanya. Pang tahu kalau ini adalah kesempatan untuk Nam balas dendam karena dulu Pang pernah mengadukan soal Nam yang naksir Chon. Tapi Nam cuma menggodanya dan menasihati agar Pang tak cepat-cepat memikirkan soal pacaran karena belum dewasa.

Nam kemudian kumpul bersama teman-temannya. Cheer menanyakan Nam, “Nam apakah Chon sudah tahu?”Nam menggeleng lemah. Gie menatapnya heran, “Kau sungguh hebat! Jatuh cinta pada orang yang sama 3 tahun lebih!”
“Kurasa kau tak perlu mengatakannya pada Chon” timpal Nim, “Biar seluruh dunia mencatat bahwa ada seorang gadis gila yang mencoba untuk menjadi cantik selama tiga tahun demi seorang laki-laki. Meskipun laki-laki itu tak tahu apa-apa.”
Cheer menasihati Nam, “Nam, mungkin mulai sekarang kau takkan pernah melihatnya lagi. Kau masih akan diam saja?”
Nam melirik buku 9 Metode Cinta nya, “Aku sudah coba berbagai cara...”
“Jangan takut, kami selalu mendukungmu” ujar Cheer, “Benarkan?”
“Iya!”sahut Nim, “Kau sangat cantik, rajin belajar juga baik hati kenapa dia bisa tak menyukaimu?”
Nam kesal, “Kalian benar-benar memujiku tidak sih?”

Malamnya Nam menghias setangkai bunga Mawar Putih, metode ke 10, dari Thailand, yang paling tulus.

Hari kelulusan tiba, Nam menunggu Chon keluar dari kelasnya namun ternyata Chon masih dikelilingi oleh teman-temannya (PS: Nam dan Chon lulus bersama, sepertinya Nam akselerasi). Nam harus menunggu sampai ia dan Chon memiliki waktu hanya berdua saja. Ia mengikuti Chon bersama teman-temannya. Sampai akhirnya Chon pergi untuk memotret sendirian ke ruangan kolam renang, Nam didorong teman-temannya untuk mengambil kesempatan itu. Teman-temannya berjaga di luar ruangan.

Chon memotret Kolam renang sebagai kenang-kenangan. Nam menghampirinya, Chon pun memotret Nam.
“Nam, kau belum menanda tangani kemejaku,” ujar Chon (di Thailand juga ada tradisi mencoret-coret baju, tapi versi tanda tangan. Lebih rapi).
“Kak Chon, aku ingin mengatakan sesuatu ”Nam menghela nafas mengumpulkan kekuatan. Kemudian ia mulai mengatakan semuanya, “Aku mencintaimu. Aku sudah mencintaimu selama lebih dari 3 tahun ini. Aku sudah melakukan segalanya, mengubah diriku dalam banyak hal demi kamu. Aku mendaftar klub penari klasik, melakukan drama panggung, menjadi pemimpin grup mayoret, lebih rajin belajar, semuanya karena kamu.... Tapi aku tahu sekarang, hal seharusnya kulakukan, dan harus sudah kulakukan sejak dulu bahwa... adalah memberitahumu... Nam cinta Kak Chon...”
Nam menghela nafas dan mengeluarkan air mata kelegaannya. Ia menyerahkan mawar putih yang sudah ada kartu ucapan dan Tuan Kancing yang terikat di tangkainya pada Chon yang tertegun sambil menatap Nam.

Sesaat setelah Nam menghapus air matanya karena lega, tanpa sengaja matanya melihat ke arah kantung kemeja Chon. Tertulis disitu, Pin cinta Chon. Nam terkejut (sepertinya di Thailand, kalau yang ditulis di kantung kemeja berarti nama kekasih atau pacar).
“Kak Pin dan Kak Chon...?”tanya Nam hampir tak bisa bersuara. Air matanya mengalir lagi.
Chon mengangguk dengan berat.
“Kapan?”tanya Nam lagi dengan susah payah.
“Seminggu yang lalu...”jawab Chon pelan.
Nam seperti bingung untuk bertindak. Ia menangis tapi kemudian berusaha untuk tertawa, “Hahaha.... Kak Pin dan Kak Chon berpacaran... haha... kalian cocok... lucu...”
Chon masih memandangi Nam dengan penuh perasaan bersalah.
Nam sekuat tenaga menahan tangisnya, ia menepuk bahu Chon, “Semoga kalian bahagia...”

Nam yang sudah tak tahan ingin segera pergi dari situ, lupa kalau di sampingnya ada kolam. Ia berbelok dan langsung tercebur.
“Nam!”seru Chon.
Nam yang basah kuyup mencoba untuk terus tertawa, “Aku tak apa-apa...”Chon menawarkan bantuan untuk Nam keluar dari kolam, tapi Nam tak menyambutnya. Ia benar-benar berusaha tak terlihat menangis.
“Kalian cocok” ucap Nam sebelum berbalik pergi memunggungi Chon.
“Nam kau baik-baik saja?” tanya Chon.
Nam menangis tapi memberi isyarat kalau ia baik-baik saja lewat jarinya.
Chon tak percaya, ia masih berusaha memanggil Nam, “Nam!”
Di luar, Nam disambut teman-temannya yang terkejut melihat Nam basah kuyup. Nam langsung pergi tanpa ingin bertemu teman-temannya dulu. Gie berusaha menyusulnya namun ditahan Cheer. Mereka ikut menangis karena sudah bisa menebak apa yang terjadi.

Nam berjalan melewati Pin, Pin juga kaget melihat Nam basah kuyup. Ia menahan Nam dan bertanya apa yang terjadi. Nam tadinya ingin langsung pergi. Tapi kemudian ia kembali dan memeluk Pin erat-erat tanpa berkata apa-apa lalu langsung pergi dan membuat Pin terheran-heran.

Chon tiba di rumah setelah malam (sepertinya dia mampir dulu ke suatu tempat) dan terheran-heran melihat sebuah mobil sedan bagus terparkir di depan rumahnya. Di rumah ia langsung disambut oleh lemparan kaos dari ayahnya, “Selamat datang pemain junior Bangkok Glass!”
Rupanya di rumah sudah ada Manajer dan Pelatih tim Bangkok Glass. Chon sudah di terima sebagai pemain junior mereka. Chon yang senang memeluk ibunya. Kemudian ia membuka kulkas dan mengambil sesuatu yang sangat familiar...
Kotak cokelat pemberian Nam yang duluuuuuu... banget, rupanya masih disimpan baik-baik oleh Chon seperti Nam yang masih menyimpan gelas pepsi pemberian Chon. O..o... apa artinya tuh?
“Siapkan pakaianmu Chon, malam ini kau harus berangkat bersama paman Neng (pelatih Bangkok Glass), besok kau harus sudah ada di kamp pelatihan!”
“Hah?! Hari ini ayah??!”seru Chon terkejut.
“Ya, buat apa lagi ditunda?”tanya ayahnya balik.

Chon segera berlari ke kamarnya menaruh tas yang di dalamnya terselip bunga mawar putih pemberian Nam. Ia mengambil sebuah buku di meja belajarnya. Buku album foto. Mulai sekarang akan ada flashback adegan, dan kita akan melihat semuanya dari sudut pandang Chon.

Chon membuka buku itu, ternyata buku itu penuh dengan foto Nam yang dihias begitu indah. Chon tersenyum sambil mengusap wajah Nam yang difoto dengan lembut. Lembaran dibuka. Ada halaman yang penuh dengan foto buku 9 Metode Cinta milik Nam. Rupanya buku itu di foto ketika Nam meninggalkannya saat latihan drama. Flashback adegan saat Nam mengambil buku itu dan menyeret-nyeret kakinya buat menutupi nomor telepon Nam. Di bawah foto buku itu ada tulisan, “Buku ini lucu. Tapi membuatku tahu betapa kau telah mencoba”
Di sampingnya lagi juga ada tulisan, “Aku ingin memberitahumu, bahwa kau telah berhasil sejak awal kau mencoba...”

A Little Thing Called Love / First Love PART II

Tahun berikutnya...

Hari itu hari ulang tahun Cheer. Nim bertanya pada Cheer, Cheer ingin cake apa pada hari ulang tahunnya.
“Vanilla Cake, Nam suka kue itu”ujar Cheer. Saat Cheer sedang asik memilih-milih kue, Nam belum datang. Nim segera menelponnya.Nam rupanya sedang pergi ke danau bersama Chon cs, “Aku sudah menelpon Cheer tadi pagi namun ia tak mengangkat teleponnya, sampaikan ucapan selamat ulang tahunku pada Cheer. Iya, aku minta maaf karena aku takkan bisa pulang tepat waktu...”

Di danau, semua sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang asik bermain gitar, ada yang memanggang makanan. Nam duduk di meja makan sambil memandangi Chon yang asik memotret pemandangan dari jembatan (indah banget). Tak lama Top menghampiri sambil menghidangkan cumi-cumi hasil panggangannya, mau nggak mau Nam berpaling dari Chon. Wajah Top mendekati wajah Nam sampai membuat Nam risih, “Aku akan kembali..” katanya. Saat Nam kembali melihat ke arah jembatan, Chon sudah tak ada.

Nam pergi ke jembatan dan duduk disana. Chon datang, “Apa yang kau lakukan disini?”
“Aku rasa pemandangan disini indah”kata Nam. Mereka sama-sama terdiam. Nam membuka percakapan sambil menawarkan cumi, “Kau mau makan cumi?”
Chon menoleh, “Kau tak tahu cerita cumi ya?”
Nam menggeleng, “Tidak.”
“Aku akan memberi tahumu,” Chon pindah duduknya ke samping Nam, ia mulai bercerita, “Pada suatu waktu, ada pasangan cumi. Mereka telah mengarungi lautan dan samudra yang luas hingga mereka bertemu dan saling jatuh cinta, akhirnya mereka menikah. Pada hari pernikahannya, pendeta cumi menyuruh mereka saling berpegangan tangan... jadi mereka saling berpegangan tangan.... memegang tangan... memegang tangan... memegang tangan...”
Chon menempelkan jari-jarinya satu-satu. Nam tertawa geli melihatnya.
“Kak Chon, kau gila!”ujar Nam.
Chon tersenyum.
“Tapi lucu” tambah Nam lagi.
“Yang mana? Yang cerita, atau yang cumi?”tanya Chon.
“Yang cerita! Eh, tidak, yang cumi! Umm... aku bingung...” ujar Nam, Ia melirik cumi panggang, “Aku jadi agak tak mau memakannya.”
“Aku juga tak makan cumi begitu lama karena cerita itu” tambah Chon. Mereka pun terdiam.
“Jadi...” Nam bersuara, “Apakah kau pernah memegang tangan seseorang seperti cumi itu?”
“Pernah sekali” jawab Chon sambil menatap ke danau, “Seorang gadis berwajah canggung hampir jatuh dari panggung, jadi aku memegang tangannya...”

Belum selesai Chon cerita, Top datang sambil langsung memakan cumi panggang. Nam dan Chon berteriak, “Jangan!”
“Kenapa? Ini enak..”ujar Top sambil terus mengunyah. Nam dan Chon cuma bisa menghela nafas kesal.
 
Mereka bertiga hendak pulang. Chon dan Top berjalan di depan sementara Nam mengikuti di belakang. Chon dan Top berbicara serius.
Top : “Aku bertanya padamu langsung. Apa kau suka pada Nam?”
Chon : “Eh, kau sudah jadian dengannya bukan? Kenapa kau tanya seperti itu?”
Top menepuk bahu Chon sambil tersenyum, “Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya...”
 
Tiba-tiba terdengar suara teriakan Nam di belakang. Nam terpeleset hingga kakinya terkilir. Top dan Chon langsung berlari ke arahnya. Top bertanya apa Nam masih bisa berdiri, Nam mengiyakan. Tapi ternyata ia tak sanggup, mau tak mau ia menerima tawaran Top. Sedangkan Chon yang menggendong tas Nam. Suara hati Nam saat itu, "Tuan Kancing... hari ini Chon membawakan tas saya..."

Pulangnya Nam langsung ke rumah Cheer. Ia membawakan cake kecil. Saat pintu rumah Cheer dibuka, Nam sudah bersiap, “Happy birth...”
Namun yang keluar ternyata ibunya Cheer, “Cheer tak ada. Ia masih pergi bermain dengan Nim dan Gie. Nam tak bersama mereka?”
Nam menggeleng sambil tersenyum kecut.
“Telepon saja mereka” saran Ibu Cheer lalu menutup gerbangnya lagi. Nam akhirnya meniup lilin di cake itu sendiri.

Keesokan harinya Cheer, Nim dan Gie mengerjakan PR tanpa Nam. Nam justru duduk bersama gengnya Chon.
“Aku rindu hari-hari ketika kita mengerjakan PR bersama-sama” kata Nim.
“Seorang bidadari harusnya berada di surga” ucap Cheer sinis. Ia masih marah karena Nam tak datang ke ulang tahunnya.
“Tenanglah Cheer, kau masih punya ulang tahun tahun depan” ucap Nim.
Cheer emosi, “Aku hanya punya tiga orang teman Nim! Jika aku jadi dia, aku takkan melakukan hal itu!”
Nam yang melihat teman-temannya sedang mengerjakan PR bersama menghampiri, “Hey! Kita kerjakan PR bersama-sama yuk!”
“Kenapa kau tak mengerjakannya bareng Chon saja?!”ujar Cheer sinis langsung menutup bukunya dan segera pergi dari situ. Nim dan Gie mengikutinya. Nam ditinggal sendiri.

Nam sedang duduk sendirian di depan kolam ketika Chon datang.
“Top belum datang? Aku disuruh olehnya mengajari anak kelas 3,” tanya Chon duduk disamping Nam.
Nam tersenyum, “Kak Top sedang mencari buku untuk proyek anak kelas 3”
Chon ikut tersenyum, ia memandang lurus ke depan, “Hari itu ibuku masuk rumah sakit...”
Nam menoleh, “Kapan?”
“Hari dimana ayahku gagal melakukan tendangan pinalti. Aku lahir pada hari itu. Jadi ayahku memberi hadiah pada hari kelahiranku... yaitu tak bermain bola lagi seumur hidupnya. Akulah yang membawa nasib buruk. Coba lihat, Provinsi ini tak pernah mencapai sejauh itu sejak hari itu...”
“Kau tak apa-apa?”tanya Nam khawatir.
“Maksudmu dihina?”tanya Chon balik, “Aku tidak apa-apa. Aku sudah biasa. Sudah menjadi nama belakangku. Chon, yang ayahnya tak bisa menendang pinalti...”
Nam menunduk menyesal.
Chon tersenyum, “Tapi aku benar-benar tak apa. Aku seorang pemain sepak bola.”
“Jadi kau mau terus bermain sepak bola?”
“Aku tak tahu... untuk saat ini, aku lebih membutuhkan seseorang...”
Nam menoleh kaget. Tapi sebelum Nam mendengar penjelasan Chon lebih lanjut, Top datang dan memanggil Nam. Ia meminta bantuan Nam untuk mencari buku bersamanya.

Malamnya Chon dan kawan-kawan mengadakan piknik dan api unggun. Nam ikut. Ia membantu Chon yang bertugas memasak. Top duduk di dekat api sambil mendengar Pin bernyanyi. Faye memandanginya, jelas-jelas sekarang Faye naksir pada Top. Nam dan Chon membicarakan soal kejutan ulang tahun untuk Ake, teman mereka. Tanpa sengaja tangan mereka berdua saling bersentuhan. Hati Nam berdebar, ia mendekatkan diri lagi ke Chon.

Kemudian acara kejutan untuk Ake dimulai. Chon dan Top mau perform cerita.
“Ini terjadi ketika kita kelas 5 SD...”Chon memulai cerita.
Top ketawa, “Kita berdua jatuh cinta pada cewek yang sama. Namanya Boe, kelas 4. Kita bersaing satu sama lain, berlatih menari agar salah satu dari kami bisa berdansa saat pesta sekolah. Tapi saat hari itu tiba, Chon kita kena sakit cacar....”
Semua tertawa termasuk Nam.
“Jadi hak berdansa dengannya jadi milikku, yeah...”lanjut Top.
Chon menambahi, “Tapi pada akhirnya Top juga tak berdansa dengan Boe. Jadi kita berdua sama-sama gagal...”
“Eitt” sela Top, “Itu karena Chon mengancam kalau ia tak mau berteman lagi denganku. Setelah itu kita saling berjanji....”
“Bahwa kita takkan jatuh cinta pada cewek yang sama lagi...”tambah Chon.
Tawa Nam pupus sudah. Top jelas-jelas naksir padanya, itu berarti tak ada harapan untuknya ditaksir oleh Chon.

Top dan Chon kemudian bernyanyi sambil menarikan tarian yang lucu, mengundang keceriaan. Top menarik Nam agar ikut menari bersama mereka. Yang lain juga berdiri dan ikut menari. Semuanya diliputi keceriaan. Namun di tengah tarian, Top yang rupanya sedang bahagia mengambil kesempatan mencium pipi Nam. Nam terpaku. Yang lain masih menari, sementara kebahagiaan Nam sudah hilang.

Top mengantar Nam pulang. Saat Nam hendak segera masuk ke rumahnya, Top berkata, “Nam, besok aku akan datang ke sini lagi ya. Kita nonton pertandingan Chon bersama-sama”
“Kak Top tak perlu menjemputku lagi” ujar Nam dingin.
“Kenapa? Kau ada acara?”
“Tidak, maksudku tolong jangan terlibat denganku lagi...”
Top bangkit dari sepeda motornya, “Kau marah karena aku mencium pipimu? Bukankan kau pacarku?”
Nam berbalik marah, “Kak Top, aku tak pernah menerima bahwa aku pacarmu”
Kasian banget Top pas disini, “Lalu apa artinya semua selama ini?”
“Maafkan aku kak, aku sudah mencintai seseorang...” jawab Nam.
“Siapa Nam?” tanya Top. Oh.. poor Top.
Nam hanya berbalik dan segera masuk rumah tak menjawab pertanyaan Top.
“Siapa.... Nam.... siapa?!”tanya Top. Ia terduduk lemas di sepeda motornya.


31 Maret 2011

Andrea Hirata dan Karya-karyanya

Assalamualaikum sahabat-sahabat ku...
Sebagai seorang pecinta dunia novel di Indonesia, tentu pernah membaca atau minimal mendengar tentang pria asal belitong yang satu ini.
 
Andrea hirata merupakan seorang sarjana lulusan Universitas Indonesia yang kemudian melanjutkan studinya di Universitas Sorbonne Prancis dan Shefilled Hallam United Kingdom. Tesisnya yang bertema  ‘Eknomi telekomunikasi’ telah mendapat penghargaan dan dia lulus dengan IP cumlaude di dua universitas tersebut. Andrea atau yang akrab dipanggil ikal telah menulis empat buah buku yang dengan hebatnya mampu menyandang predikat best seller pada masing-masing buku.

Pertama kali buku Andrea masuk ke dalam pasaran, hampir setiap orang pecinta buku membicarakannya. Sehingga saya menjadi penasaran dengan novel tersebut dan membeli novel pertama yang berjudul laskar pelangi . Karena novel itu sudah ada di tangan saya, sayapun mecoba untuk membacanya. Di luar dugaan, saya sangat tertarik sampai saya ketagihan untuk membaca halaman demi halaman dalam buku tersebut. Baru satu buku saja, saya sudah merasakan bahwa Andrea Hirata adalah seorang penulis hebat yang mampu membuka mata kita tentang dunia, tentang Indonesia.

Setelah hatam membaca laskar pelangi, saya langsung mencari dua buku setelahnya yaitu ‘Sang Pemimpi dan ‘Edensor’. Thanks buat adek ku yang sudah memberi kado novel  Sang Pemimpi di hari ultah saya. Saya semakin kagum dengan pria lulusan Sorbone ini. Di setiap bukunya selalu memberikan makna yang berbeda serta cita rasa yang berbeda pula. Terlebih kisah tersebut adalah kisah nyata tentang masa lalunya, hal ini lah yang membuat saya makin mencintai buku ini.

Tidak lama setelah itu, muncul karyanya yang lain, ‘Maryamah Karpov’. Karya yang satu ini merupakan karya terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi.

Melalui tulisan ini saya akan membahas satu persatu buku karya Andrea Hirata tersebut.

Laskar Pelangi

“..and to every action, there is always an equal and opposite or contrary reaction..”

Kalimat itu merupakan kalimat dari Isaac Newton tentang hukum aksi reaksi, dan kalimat itu juga menjadi bagian awal dari buku ini. Saya yakin hampir setiap orang yang membuka ini pasti akan berpikiran, “wah berat nih”, namun saya yakin setelah dia membuka halaman pertama , kedua, dan seterusnya dia akan terbawa oleh manis ceritanya, serunya petualangan ke sepuluh orang anak kecil yang menamakan diri mereka ‘Laskar Pelangi’.

Ikal, itulah nama yang digunakan oleh Andrea Hirata untuk dirinya sendiri di buku tersebut. Entah mengapa di dua buku pertama saya selalu menganggap bahwa Andrea tidak menempatkan dirinya sebagai tokoh utama. Dia lebih menjelaskan tentang sahabat-sahabat yang ada di sekitarnya yang mampu memberikan inspirasi ke dalam kehidupannya.

Lintang, dia lah salah satunya. Mungkin ini alasan kenapa Isaac Newton menjadi pembuka dalam buku ini. Lintang merupakan sahabat ikal yang paling cerdas, hampir atau mungkin malah menyamai Isaac Newton. Ikal sendiri selalu menyebut Lintang sebagai, “my Isaac Newton”. Tokoh Lintang ini digambarkan sebagai orang yang sangat miskin. Ayahnya hanya seorang nelayan, sementara dia harus membantu menghidupi ke dua adiknya. Namun miskin harta bukan berarti miskin ilmu, semangat belajar Lintang sangat tinggi. Bahkan ketika bu Muslimah, guru mereka absen mengajar, Lintang lah yang menjadi guru bagi ke sembilan orang temannya. Namun ternyata takdir berkata lain, Ayah Lintang meninggal dunia. Terpaksa Lintang harus menjadi kepala keluarga dan berhenti sekolah. Ini merupakan epilog dari cerita Laskar Pelangi yang sangat mengharukan.

Mahar, teman ikal yang lain. Seorang anak yang sangat berbakat dalam hal seni. Seakan bakat itu tumbuh dengan sendirinya melalui hobinya mendengarkan musik melayu di saluran Radio yang seadanya. Sayangnya  kecerdasan spiritual Mahar sangat kurang, dia mempercayai dunia perdukunan da sangat terobsesi untuk menjadi seorang dukun.
Namun dibalik menyedihkannya nasib Lintang, dan kurangnya iman Mahar, terdapat hal menarik yang akan saya ceritakan ketika membahas Maryamah Karpov.

Sang Pemimpi

“Bermimpilah, maka tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”

Ini merupakan kalimat yang paling terkenal dari Sang Pemimpi, diucapkan oleh Arai, saudara sepupu Ikal. Kalau di Laskar Pelangi tokoh inspirasinya adalah Mahar dan Lintang, di jilid ke dua Arai ini lah pehatian utamanya.

Kisah ini menceritakan tentang usaha mereka dalam mengejar mimpi saat SMA, yaitu mimpi untuk sekolah di Eropa suatu hari kelak dan menjelajahi Eropa sampai Afrika. Tak pernah berhenti mereka menabung agar bisa keluar dari pulau kecil itu dan kuliah di Jakarta untuk pada akhirnya melanjutkan kuliahnya  di Eropa. Saya sering berpikir, betapa mudahnya orang-orang seperti saya untuk mendapatkan informasi tentang beasiswa. Tidak hanya melalui kertas-kertas pengumuman yang begitu ramai di mading kampus, namun fasilitas internet 24 jam juga sangat membantu dalam mencari informasi tersebut. Saya tidak pernah kepikiran untuk menabung koin demi koin dalam kotak alumunium seperti yang dilakukan Arai dengan Ikal. Novel Sang Pemimpi membuat saya agak malu menjadi diri saya yang tidak mempunyai mimpi setinggi mereka :-( .

Meski berkali-kali goyah, Ikal tetap berani bermimpi untuk mencapai cita-citanya. Semua itu karena Arai yang menyemangatinya. Arai tidak pernah  berhenti bermimpi di setiap detiknya. Hingga pada akhirnya mereka berdua mendapatkan kesempatan kuliah di Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, Ikal langsung kuliah di Universitas Indonesia dengan predikat cum laude. Sangat Luaar biasa. Melalui buku ini, saya mengambil sebuah kesimpulan, bahwa kita telah berhasil 50% mewujudkan mimpi kita apabila tekad kita kuat. Ya 50% tekad, 50% usaha. Tentunya disertai dengan tawakal kepada Allah.

Edensor

Jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah cahaya yang melesat-lesat di dalam gerbong di atas rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak kita mengambil pelajaran dari penglaman yang melesat-lesat itu.....


Ini merupakan buku yang membuat saya kagum. Saking saya terkagum-kagum dengan isi buku ini , saya  sampai membacanya sebanyak tiga kali. hahaha =D

Buku ini mengisahkan tentang kuliah mereka di Eropa. Salah satu hal yang saya sukai, Andrea Hirata sungguh pintar mendeskripsikan teman-temannya dari berbagai negara, MVRC Manooj dari India, Pablo Arian Gonzales dari Meksiko, Ninochka Stronovsy dari Ukrania, Virginia Sue Towsand dari Amerika,  Naomi Stansfield dari Inggris serta Katya dari Jerman.

Hmm. Saya lupa menceritakan tentang gadis bernama A ling yang muncul di ‘Laskar Pelangi’. A ling tidak lain adalah cinta pertama ikal, dan sepertinya juga menjadi cinta terakhirnya. Njoo Xian Ling atau A ling adalah seorang gadis keturunan Tiong Hoa yang dulu sempat tinggal di belitong. Baru saja Ikal dan A ling merasa dekat, tiba-tiba A ling harus pergi tanpa pamit. Kabarnya dia membantu bibinya di Jakarta dan sekolah disana. Nah, dua buku teakhir ini banyak bercerita tentang usaha Ikal yang tak pernah pupus untuk mencari dimana A ling berada.

Di Prancis, Ikal mencari A ling ke segala penjuru. Dia bahkan sampai mencari di Google. Namun A ling yang ditemuinya ternyata adalah A ling yang lain. Ada A ling yang hanya seorang bayi kecil yang baru lahir, A ling nenek tua yang kebetulan baru saja meninggal saat ditemuinya, atau bahkan A ling yang hanya sebuah papan nama laundry. Biar begitu, Ikal selalu yakin bahwa suatu hari dirinya akan menemukan A ling. ckckck

Hingga suatu hari, Arai dan Ikal mengadakan perlombaan dengan teman-teman di kampusnya. Lombanya adalah banyak-banyakan mengunjungi negara di Eropa, tentu saja modal ditanggung sendiri. Perlombaan ini diikuti oleh orang-orang yang berasal dari negara yang berbeda, di antaranya Inggris, Amerika, India, Meksiko dan Indonesia yang diwakili oleh Arai dan Ikal.

Akhirnya mereka berangkat mengelilingi Eropa. Ini lah mimpi mereka sejak dulu, berawal dari sebuah sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya, kini  mereka telah menginjakan kakinya menelusuri tanah Eropa. Dalam perjalanan, kejadian seperti dirampok, nyasar, sampai kekurangan uang pernah mereka alami semuanya. Namun semangat Ikal untuk menemukan A ling tidak pernah pudar, dia terus mencari dan mencari sampai akhirnya mereka keluar Eropa dan sampai di Afrika! Tapi A ling tidak pernah tampak.

Walaupun A ling tidak berhasil mereka temukan,  mereka telah berhasil menjadi tim yang paling banyak mengunjungi Negara di Eropa bahkan ke Afrika, dan akhirnya merekalah yang menjadi pemenang. Ya dua orang Indonesia yang berasal dari pulau kecil berhasil memenangkan pertandingan ini hanya bermodal tekad dan keyakinan.

Buku ini berhasil membuang jauh-jauh pemikiran bahwa Indonesia bangsa yang lebih rendah dari bangsa Eropa dan Amerika. Tekad kuat Arai dan Ikal membawa saya ke sebuah keyakinan bahwa walaupun kita memiliki banyak kekurangan, namun kita selalu mempunyai kesempatan untuk memperbaikinya. Dan saat itulah muncul sesuatu yang tanpa kita sadari, kita mampu menjadi lebih hebat dari siapapun.

Maryamah Karpov
“..Tahukan dirimu, Kawan? Dalam serpih serpih cahaya, dan gerak-gerik halus benda-benda, tersimpan rahasia, mengapa kita ini ada..”

Dari semua karya Andrea Hirata, karya inilah yang paling membuat saya terkagum-kagum sampai hampir tidak percaya. Sebagian besar dari buku ini menceritakan tentang budaya di pulau Belitong serta karakter-karakternya yang dijelaskan secara sempurna oleh sang penulis.

Kembali ke kekaguman saya, di pertengahan buku kisah ini menceritakan Ikal yang hendak membuat perahu untuk mecari A ling di Batuan. Sebuah tempat yang sangat berbahaya untuk di datangi. Hampir semua orang tidak dapat pulang ketika berlayar ke sana. Melalui bukunya, Andrea menceritakan bagaimana dia dicerca dan ditertawakan oleh  penduduk setempat karena melakukan hal yang di luar batas akal sehat. Namun dibantu dua orag teman lamanya, Lintang dan Mahar, dia berhasil melalui semua ini.

Ya, di sini Lintang kembali eksis. Dia tidak suram seperti dulu ketika terakhir kalinya bertemu di Laskar Pelangi. Dia telah berhenti menjadi supir truk dan beralih menjadi petani kopra yang sukses. Dari sinilah saya belajar bahwa ilmu itu bukan masalah uang. Ilmu itu ada di setiap nafas yang kita hela, dan setiap senti tanah yang kita pijak. Terbukti dari kisah Lintang, dia berhasil memakmurkan dirinya bahkan tanpa harus membayar mahal untuk sekolah. Dia masih mampu menggali ilmu,  buktinya dia mampu memberikan hukum-hukum fisika pada perahu yang akan dibuat Lintang sehingga perahu itu layak mengarungi samudra. Lalu bagaimana dengan kita? Yang setiap harinya duduk di bangku kelas atau di bangku kuliah, mengisi absen, membayar mahal. Memalukan sekali kan bila tau kenyataan bahwa kita masih belum bisa menerapkan ilmu kita seperti Lintang?

Dan Mahar, masih tetap sesat seperti dulu. Malah jauh lebih sesat. Dia menguasai ilmu-ilmu hitam. Namun ternyata dia belum lupa dengan sahabatnya, Ikal, dia bersedia mengarungi lautan bersama demi mencari orang yang paling dicintai ikal selama ini, A ling. Dan di novel ini juga Arai akhirnya mendapatkan cinta Nurmala,  seorang cewek yang selalu menolak cintanya sejak SMA hingga kuliah S2 di Sorbone, namun keyakinan Arai dan cintanya akhirnya bisa menaklukkan hati Nurmala, lalu mereka menikah.

Cerita Maryamah Karpov tidak berakhir bahagia. Meski A ling akhirnya ditemukan, keduanya tidak bersatu karena sebuah alasan, yaitu ayah Andrea tidak menyetujui mereka menikah karena berbeda agama. Tapi tidak mengapa, karena ini semakin membuktikan saya bahwa cerita ini adalah nyata. Mungkin sampai saat ini Andrea masih belum menemukan happy endingnya dengan A ling.

Begitulah keempat novel karya Andrea Hirata yang sangat spesial di hati saya. Andrea berhasil memberikan warna baru dalam dunia pernovelan Indonesia. Dia menyuguhkan cerita-cerita yang menggugah jiwa, melalui genre yang berbeda.

Melalui karyanya, saya tau caranya bermimpi.

Melalui karyanya, saya yakin tidak ada yang mustahil.

Melalu karyanya, saya bangga menjadi bangsa Indonesia.

25 Juni 2010

Surat Kecil Untuk Tuhan


 Hy sob.... Nova  mau share postingan nih tentang Novel-True Story...tentang kisah seorang gadis kecil.

Gadis kecil ini bernama Gitta Sassa Wanda Cantika mantan artis cilik era tahun 1998an.. Gadis cilik berusia 13 tahun yang divonis mengalami kanker ganas yang nyaris membuat wajahnya menjadi tampak seperti monster. Ni dapatnya dari salah satu sahabat blogger. Haha :D (tukang copas). Novel ini diambil dari kisah nyata tentang seorang gadis kecil yang menderita penyakit kanker jaringan lunak di wajah nya.....


Ok penasaran khan....????
lanjut baca yah n jangan lupa tinggalkan koment kamu . Hehehe :D


Tuhan ..
Andai aku bisa kembali..
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.
Tuhan ..
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada hal yang sama terjadi padaku, terjadi pada siapapun.

Cuplikan itu menjadi sedikit bait dari sebuah tulisan yang ditulis seorang remaja penderita kanker Rabdomiosarkoma atau kanker jaringan lunak. Sebuah kanker ganas yang menyerang pada bagian wajah seorang gadis remaja bernama Gita Sesa Wanda Cantika.

Umurnya masih 13 tahun saat dokter mengatakan kepada ayahnya bahwa putrinya hanya dapat bertahan selama lima hari bila tidak melakukan operasi sesegera mungkin. Hati ayah mana yang tidak hancur ketika tahu jalannya operasi itu harus membuat sang putri kehilangan sebagian wajahnya. Sedangkan sang putri mulai bertanya mengapa diwajahnya mulai tumbuh gumpalan sebesar buah kelapa. Tak ingin melukai hati anaknya, sang ayah berserta keluarga merahasiakan kanker itu pada Keke, panggilan gadis remaja aktif dengan sejuta prestasi model dan tarik suara.

Namun perlahan Keke mulai menyadari dirinya bukan sakit biasa, ia sadar hidupnya tak mungkin akan bertahan lama dengan pandangan mata yang mulai buta oleh kanker. Walau akhirnya ia tahu ia terserang kanker ganas, ia pasrah dan tidak marah pada siapapun yang merahasiakan penyakit maut itu padanya.

Ia memberikan senyum kepada siapapun dan menunjukkan perjuangannya bahwa dengan kanker diwajahnya ia masih mampu berprestasi dan hidup normal di bangku sekolah. Tuhan menunjukkan kebesaran hati dengan memberikan nafas panjang padanya untuk lepas dari kanker itu sesaat.

Perjuangan Keke melawan kanker membuahkan hasil, Kebesaran Tuhan membuatnya dapat bersama dengan keluarga serta sahabat yang ia cintai lebih lama. Keberhasilan dokter Indonesia menyembuhkan kasus kanker yang baru pertama kali terjadi pada putri Indonesia ini menjadi prestasi yang membanggakan sekaligus membuat semua Dokter di Dunia bertanya-tanya.

Namun kanker itu kembali setelah sebuah pesta kebahagiaan sesaat, Keke sadar napasnya di dunia ini semakin sempit. Ia tidak marah pada Tuhan, ia bersyukur mendapatkan sebuah kesempatan untuk bernapas lebih lama dari vonis lima hari bertahan hingga tiga tahun lamanya.

Dokter menyerah terhadap kankernya, di napasnya terakhir ia menuliskan sebuah surat kecil kepada Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran hati remaja Indonesia yang berharap tidak ada air mata lagi di dunia ini terjadi padanya, terjadi pada siapapun.

Napasnya telah berakhir 25 desember 2006 tepat setelah ia menjalankan ibadah puasa dan Idul Fitri terakhir bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya, namun kisahnya menjadi abadi. Ribuan air mata berjatuhan ketika biografi pertamanya dikeluarkan secara online. Pesan Keke terhadap dunia berhasil menyadarkan bahwa segala cobaan yang diberikan Tuhan adalah sebuah keharusan yang harus dijalankan dengan rasa syukur dan beriman. Perjalanan waktu, biografi Keke pun dipasarkan secara luas.

Ditulis oleh Agnes Davonar, buku yang penuh dengan hikmah dan ketulusan ini diberi judul Surat Kecil untuk Tuhan ini menjadi buku kedua penulis yang memulai kariernya dari sebuah blogger dengan situs http://lieagneshendra.blogs.friendster.com.

Misi kemuliaan buku ini cukup tergambar dengan menyumbangkan sebagian dari hasil penjualan ini kepada yayasan yang bernaung membantu penderita Kanker di Indonesia. Bahkan, buku ini diedarkan di luar negeri dengan permintaan penerbit asal Taiwan di bawah bendera Suaraindo, yang merupakan tabloid berbahasa Indonesia, akan terbit bulan September awal.

Sedangkan Di Indonesia sendiri akan diedarkan pekan ketiga Agustus. Sebuah soundtrack yang dinyanyikan oleh penyanyi cilik Indonesia Ferel dengan judul Sebab Kau Menjagaku menambah arti kisah perjalanan gadis remaja yang mendapatkan penghargaan sebagai siswa teladan Indonesia dari pemerintah Indonesia ini.

Agnes davonar sendiri mengakui, air matanya tak pernah berhenti ketika menuliskan buku ini, sehingga ia berharap buku ini dapat menjadi sebuah semangat bagi siapapun orang yang mengalami sebuah cobaan dari Tuhan agar tetap bersyukur dan pasrah. Ayah Agnes davonar juga meninggal karena sebuah kanker paru-paru sehingga ia begitu bersemangat menuliskan kisah ini sejak 2 tahun silam dan akhirnya buku ini dapat diedarkan secara luas.
Sebuah penantian panjang tentang sebuah keimanan yang layak untuk Anda miliki. Well, membaca kisah ini membuat Saya seolah anak kecil yang rindu akan kasih Allah SWT.

Buku ini sendiri mencetak rekor penjualan 2.000 buku pada penjualan hari pertama. Saya menjadi pengkoleksi sejati. Mungkin sobat juga harus bila sobat menyakini diri sobat telah sadar akan kebesaran Tuhan.

NB: Puisi diatas adalah puisi yg ditulis oleh gadis cilik tsb (Gitta Sessa Wanda Cantika), Nova taruh di blog ini karena va  suka banget, really touching, n biar bisa selalu mengingatkan  va betapa berharganya hidup ini dikala lagi down.

sumber : http://lieagneshendra.blog.friendster.com/?page_id=1215

05 April 2010

Novel Taj Mahal

 Taj Mahal- Kisah Cinta Abadi

Taj Mahal aalah sebuah novel sejarah yang berlatar asmara dan
perselingkuhan, intrik dan perang saudara dibalik penciptaanTaj Mahal, yang
merupakan salah satu keajaiban dunia. Novel ini berkisah tentang Jahanara yang
hidup dalam lingkungan cinta kasih ayahnya sultan Shah Jahan, ibunya Mumtaz
Mahal, dan kakak laki-lakinya Dara. Ketiga orang tersebut banyak mengajarkan
Jahanara tentang perihal kemanusiaan. Ayahnya adalah seorang sultan yang
tangguh, berhati lembut, yang begitu mencintai dan menghargai ibunya. Dalam
mengambil keputusan yang berhubungan dengan kerajaan, tidak jarang ayahnya
meminta pendapat ibunya yang sangat bijaksana, sehingga tidak ada pihak yang
merasa rugi dan dirugikan. Begitupula dengan Dara kakaknya, yang selalu berusaha
menyatukan umat Muslim dan umat Hindu dalam satu panji persatuan di bawah
kepemimpinan ayahnya, dan mengajak Jahanara untuk memaknai hidup orang-orang
kelas bawah.Namun kebahagiaan Jahanara sebagai remaja yang hidup bebas tanpa adanya
perbedaan kelas, kasta dan gender terusik karena kekejaman adik laki-lakinya
yang bernama Aurangzeb yang ambisius. Di dunianya hanya ada kata perang dan
keinginan membunuh yang begitu besar. Ia tidak hanya membenci umat Hindu, tetapi
juga sangat membenci Jahanara dan Dara. Bagi Aurangzeb, kedua orang inilah yang
akan menjadi peghalang keinginannya untuk jadi penguasa kelak.
Kesedihan mulai mewarnai hidup Jahanara. Di saat Ia masih haus kasih sayang
orang tuanya, Ia harus merelakan masa remajanya terenggut oleh sebuah perkawinan
politik.Di tengah luka yang datang silih berganti, Jahanara menemukan cintanya pada
seorang ahli kaligrafi bernama Isa. Laki-laki inilah yang merancang pembuatan
makam ibunya Mumtaz Mahal. Ia dan Isa merasa senasib karena sama-sama kehilangan
orang-orang tercinta. Duka menempa Jahanara menjadi perempuan tegar, dan merasa
bertanggung jawab atas keselamatan kerajaan di masa depan.Konflik semakin bertambah ketika Taj Mahal rampung dibangun. Ayahnya mulai
sakit-sakitan, ditambah lagi dengan pengkhianatan yang dilakukan Aurangzeb
secara terang-terangan terhadap kekuasaan ayahnya. Aurangzeb mengatasnamakan
agama dan Al-Quran untuk setiap tindakan anarkisnya. Bahkan Ia rela membunuh
Dara, kakaknya sendiri dan memenjarakan Jahanara dan ayahnya.Banyaknya peristiwa
yang dihadirkan membuat cerita ini terkesan berjalan lambat. Dan ending
(akhir) nya pun tidak begitu jelas. Namun, novel ini mengajak kita turut serta
larut dalam ceritanya yang sangat mengharukan. Ada hal baru yang bisa ditemukan
di balik proses pembuatan Taj Mahal ini. Kita selama ini mengira bahwa istana
yang dibuat itu memang untuk istri sultan. Tetapi setelah membaca novel ini,
ternyata istana yang dibuat itu adalah bukti cinta suci Isa kepada Jahanara yang
tidak bisa dimilikinya seutuhnya.